Pesan moral dari cerita rakyat Jaka Kendil terasa sangat mendalam dan terus relevan bagi masyarakat Jawa Tengah. Joko Kendil yang selama hidupnya sering diejek dan dicemooh orang karena buruk muka dan keadaan fisiknya. Namun dibalik itu semua, berkat kesabaran dan kasih sayang tulus seorang ibu, ia memperoleh kebahagian yang sangat luar biasa dan hidup bahagia bersama istri tercintanya.
Mogol, Pemilik Grup Kethoprak Wahyu Manggolo menyatakan kebahagiannya, karena masih ada akademisi dan peneliti yang bersedia turun ke lapangan dan memiliki perhatian atas eksistensi kesenian tradisional.
“Saya senang karena peneliti seperti Mas Sukarjo ini mau turun ke lapangan dan amat intens pada para pelaku kesenian tradisional khususnya ketoprak,’’ ujar Mogol.
Pada sekitar tahun 2022, Sukarjo Waluyo bersama Dr. Sucipto Hadi Purnomo, M.Pd. (Prodi S1 Sastra Jawa FPBS UNNES), Habib Anis Sholeh Ba’asyin (Budayawan Pati), dan beberapa seniman kethoprak dari Jogja dan Pati juga pernah mengadakan Workshop Pengembangan Kethoprak Pati Se-Eks Karesidena Pati di Sekretariat Grup Kethoprak Wahyu Manggolo.
Bagi Sukarjo, ikut dalam pentas ketoprak merupakan bagian dari tugasnya sebagai peneliti sastra dan budaya, sekaligus merawat eksistensi kesenian rakyat agar tidak tergilas zaman. *