seni-budaya

0, #1 Nol Koma Edisi Perdana Hidupkan Kembali Atmosfer Malioboro Sebagai Ruang Belajar Bersama

Senin, 6 Juli 2026 | 20:36 WIB
Para penggagas Nol Koma Diar Sahudi, Agus 'Dayak' Imron, Seno Prawoto, Jaka Prasetya, , Joko 'Gundul' Sulistiono , Feri Ludyanto


Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN — Malioboro kembali menunjukkan jati dirinya sebagai ruang budaya yang tak pernah kehilangan denyut kreatif. Pada 10 Juli 2026 mendatang, kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta akan bertransformasi menjadi panggung perjumpaan lintas generasi melalui acara bertajuk "O, – Nol Koma #1: Ruang Awal, Ruang Bersama." Inisiatif yang digagas oleh komunitas Malioboro Classical Jogja ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan sebuah gerakan untuk merawat ingatan kolektif sekaligus menghidupkan kembali semangat Malioboro sebagai ruang publik yang terbuka bagi semua kalangan.

Selama puluhan tahun, Malioboro telah dikenal sebagai "kampus jalanan" yang melahirkan deretan penyair, musisi, pelukis, budayawan, hingga pemikir yang mewarnai perjalanan kebudayaan Indonesia. Lebih dari sekadar kawasan wisata, kawasan sepanjang 2,5 kilometer ini menjelma menjadi ruang tumbuh bagi gagasan, karya, dan jejaring yang membentuk perjalanan banyak pelaku seni. Status Malioboro sebagai bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2023 semakin menegaskan pentingnya kawasan ini—bukan hanya dari sisi fisik dan sejarah, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan dan proses kreatif.

Gelaran O, – Nol Koma #1 dirancang untuk mempertemukan energi generasi muda dengan pengalaman para seniman senior. Berbagai pertunjukan musik akan dihadirkan, antara lain dari Sirkus Barock, Akrosh, Alceena Inside, Beauty Disaster, Diar Sahudi & Friends, Jagger, Frida, Lia Yures, Aan Stones, Partikelir, Tjongpick, hingga Kelompok Penyanyi Jalanan Malioboro (KPJM). Sementara itu, pembacaan puisi dan sastra akan diisi oleh sejumlah nama seperti Doni Haryo, Sekartaji Ayuwangi, Luwi Darto, Dinar Roos & Pak Yan, Ahmad Jalidu, Piwulang Sastra, Silvia Anggreni Purba, Dewi Wapah, Menik Sithik, dan Daniel Godan. Aktivitas seni rupa juga turut melibatkan berbagai komunitas dan seniman kolaborator.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Malioboro Classical Jogja, Seno Prawoto, menyampaikan kepada media di Yogyakarta pada Senin (06/07/2026) bahwa pembukaan Nol Koma #1 juga akan dimanfaatkan untuk peresmian Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Wali Kota Yogyakarta. Umbu, yang dikenal dengan julukan "Presiden Malioboro," dipilih sebagai tokoh pertama dalam program memorial budaya yang digagas penyelenggara. Monumen ini akan berfungsi sebagai media dokumentasi dan pengenalan tokoh-tokoh yang berkontribusi besar terhadap perkembangan seni dan budaya Yogyakarta. Menariknya, monumen akan dilengkapi dengan kode QR yang menghubungkan pengunjung dengan arsip digital berisi dokumentasi, karya, serta referensi perjalanan hidup Umbu. Adapun monumen fisiknya dijadwalkan akan diresmikan pada gelaran O, – Nol Koma #2 yang mengusung tema "Merawat Jejak, Merajut Waktu."

Agus "Dayak" Imron menambahkan bahwa acara ini juga akan diramaikan dengan ruang sastra. Sejumlah penyair muda akan tampil membacakan karya-karya baru sekaligus meriset ulang karya-karya Umbu dan tokoh sastra lain yang pernah hidup di Malioboro. "Kami ingin menghidupkan kembali ruang kepenyairan yang mulai hilang. Sastra di Malioboro dulu menjadi energi yang tumbuh dari kata-kata, dan itu harus dirawat," ujar Agus. Sementara itu, Joko Gundul selaku koordinator divisi seni rupa menyampaikan bahwa Nol Koma menjadi ajang untuk merajut kembali persahabatan komunitas yang sempat terpecah. "Malioboro bukan sekadar jalan, tapi ruang kehidupan. Dari sini lahir sastrawan, seniman, pengusaha, bahkan tokoh masyarakat. Energi itu harus kita realisasikan kembali," ungkapnya.

Nama "O, – Nol Koma" sendiri dipilih untuk menegaskan bahwa setiap perjalanan besar selalu berawal dari titik kecil. Acara ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya generasi baru pelaku seni dan budaya. Dengan semangat itu, O, – Nol Koma #1 diharapkan menjadi titik awal tumbuhnya kembali ruang dialog, ruang apresiasi, dan ruang kreatif yang selama ini menjadi denyut kehidupan Malioboro. Sebab, seni tidak hanya membutuhkan panggung, melainkan juga ekosistem yang memungkinkan gagasan, karya, dan manusia bertumbuh bersama. Ke depan, Nol Koma akan berlanjut dengan penelitian monumen di tahap kedua, serta pengembangan hiburan khas Malioboro. Panitia menyebutkan sejumlah nama tokoh lain yang akan diangkat dalam seri berikutnya, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi mereka bagi Yogyakarta dan dunia kebudayaan Indonesia.

Tags

Terkini