Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Setelah sebelumnya memperkenalkan diri lewat single 'Ajari Aku' pada Oktober 2025, SMARAI tidak butuh waktu lama untuk melangkah lebih jauh. Grup musik bentukan pertengahan 2023 ini resmi merilis album penuh perdana yang diberi judul 'Semai'. Album tersebut berisi sembilan lagu dan dirilis di berbagai gerai musik digital pada Sabtu, 2 Mei 2026. Bagi SMARAI, 'Semai' bukan sekadar kumpulan karya, melainkan representasi dari proses menanam harapan, merawat luka, dan menumbuhkan keberanian untuk terus melanjutkan perjalanan hidup. Judul 'Semai' sendiri merepresentasikan fase awal pertumbuhan, sementara setiap lagu di dalamnya merupakan potongan dari fase kehidupan, pembelajaran, penerimaan, dan optimisme. Menurut personel SMARAI, nama band mereka diambil dari kata 'semarai' yang berarti tumbuh, berkembang, dan merekah, sehingga harus diawali dengan 'Semai' sebagai pijakan atau langkah awal sebuah perjalanan. Dhedot (Dedy Riyono) yang juga aktif sebagai drummer Letto menjelaskan bahwa setelah merilis single 'Ajari Aku', mereka melanjutkan perjalanan dengan album 'Semai' untuk membuka lebih lebar pintu rumah mereka, memperkenalkan diri secara utuh sebagai band baru, sekaligus mewujudkan komitmen bahwa SMARAI adalah grup yang serius sejak hari pertama terbentuk.
Dalam album 'Semai', SMARAI memperkenalkan 'Optimis' sebagai single andalan kedua. Lagu ciptaan Agib Tanjung ini berada pada urutan terakhir di album. Aransemennya dibangun secara gradual: dimulai dengan nuansa reflektif dan chorus yang ditampilkan sejak awal, lalu berkembang menuju klimaks emosional yang uplifting dari verse hingga pre-chorus. Secara garis besar, 'Optimis' menceritakan momentum krusial yang hampir pernah dirasakan semua orang, yakni mengalami masa-masa sulit, belajar melawan keadaan karena kegagalan, dan pada akhirnya mampu menghadapi masalah dengan keberanian. Agib Tanjung menegaskan bahwa lagu ini adalah lagu tentang bertahan menghadapi masalah tanpa menyangkal luka. Lagu ini tidak menafikan kesedihan dan tidak menyangkal kegagalan, tetapi justru merayakan keberanian untuk berdiri di tengah badai dan memilih tetap melangkah. Sejak awal, lirik 'Optimis' tidak dirancang untuk tema spesifik seperti percintaan, melainkan untuk masalah umum yang dihadapi banyak orang, mulai dari problem personal dan keluarga, masalah karier dan keuangan, hingga masalah sosial yang berujung pada kesehatan mental. SMARAI sepakat memilih 'Optimis' sebagai single kedua karena tema lagu ini dianggap timeless dan selalu relevan dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi penyemangat agar orang memiliki mental untuk selalu optimis.
Seperti saat peluncuran single 'Ajari Aku', SMARAI kembali memproduksi video klip sekaligus film pendek untuk 'Optimis'. Penggarapan video ini masih dipegang oleh Gelora Abadi Sentosa Indonesia (GAS.ID), unit kerja kreatif milik Bagoes Kresnawan yang juga bertindak sebagai sutradara. Pengerjaan film scoring dikerjakan oleh Aza Ardito dan Sasi Kirono. Jika pada 'Ajari Aku' cerita lebih mengekspos percintaan kawula muda, maka dalam 'Optimis' Bagoes Kresnawan menerjemahkan lagu tersebut ke dalam cerita tentang suka duka profesi guru honorer. Film pendek ini mengangkat kisah seorang guru honorer bernama Abdul (diperankan oleh Kukuh Prasetya) yang harus bertahan di tengah kerasnya himpitan ekonomi dan rutinitas hidup serba terbatas. Kesehariannya dipenuhi berbagai ujian: makan dengan lauk seadanya, konflik dengan ibu kos karena tunggakan uang sewa, hingga perjuangan fisik menembus jalanan sulit hanya untuk bisa sampai ke sekolah. Puncak keputusasaan datang ketika sang istri tak lagi sanggup menahan derita kemiskinan dan memilih pergi meninggalkannya. Namun, tepat di titik terendah saat ia hampir menyerah, Abdul kembali menemukan secercah kekuatan dari senyum tulus dan semangat belajar anak didiknya di kelas. Momentum itu membuat segala lelahnya sirna, memberinya alasan kuat untuk tetap bertahan dan menatap masa depan dengan optimis. Bagoes Kresnawan mengaku sejak awal ingin membuat lagu 'Optimis' terasa relate, dan profesi guru honorer yang selalu tersorot problematikanya seperti gaji sedikit, ketidakpastian karier, tekanan dari keluarga dan lingkungan, serta kaitannya dengan kesehatan mental, dinilai sangat relevan dengan lirik lagu tersebut.
Proses pembuatan album 'Semai' dikerjakan di Satrio Piningit Studio. Perekaman instrumen dikawal oleh Abraham Mico (Pleasure Seekers) sebagai sound engineer, sementara mixing dan mastering kesembilan lagu seluruhnya dikerjakan oleh Sasi Kirono. Film pendek 'Optimis' tayang pada 2 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, sementara video klipnya menyusul dalam beberapa hari berikutnya dan keduanya dapat dinikmati melalui kanal YouTube SMARAI. Pemilihan tanggal ini bukan tanpa alasan, karena SMARAI menilai momentum tersebut sangat relevan dengan tema suka duka kehidupan seorang guru honorer. Melalui perilisan di hari yang identik dengan dunia pendidikan, SMARAI berharap pesan dalam 'Optimis' dapat terasa lebih kuat sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap para tenaga pendidik yang terus berjuang di tengah berbagai keterbatasan.
SMARAI dibentuk pada pertengahan tahun 2023 dengan personel yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Dhedot Dedy Riyono masih aktif menjadi drummer bersama Letto, Agib Tanjung berprofesi sebagai jurnalis sekaligus session player beberapa musisi nasional, Bagoes Kresnawan adalah film director sekaligus founder GAS.ID, Aza Ardito aktif sebagai session player berbagai artis, dan Sasi Kirono bekerja sebagai musik produser dari banyak musisi termasuk Putri Ariani. Setelah merilis single 'Ajari Aku', SMARAI giat membuat berbagai aktivasi online maupun offline. Mereka konsisten membuat konten bernama Main Bareng, yakni video pendek berdurasi satu hingga dua menit yang mengajak kolaborator dari berbagai kalangan (grup band, solois, MC, hingga komedian) untuk menyanyikan 'Ajari Aku' bersama-sama. Beberapa video tersebut langsung tembus ratusan ribu penayangan di Instagram. Selain itu, para personel SMARAI juga sempat membuat konten drama pendek yang dikerjakan secara serius dari segi cerita hingga kualitas audiovisual. Tidak kehabisan ide, pada Ramadan 2026 mereka menginisiasi aktivasi offline kolektif bernama Pentasore, yaitu pentas musik kecil pada sore hari sambil menunggu waktu berbuka puasa. Pentasore sukses digelar tiga kali di tiga tempat berbeda dalam rentang waktu dua pekan, semuanya dikerjakan secara mandiri dengan keterlibatan personel dan tim produksi SMARAI saja. Hingga saat ini, diskografi dan filmografi SMARAI mencakup film pendek 'Ajari Aku' (2025), single dan video klip 'Ajari Aku' (2025), single dan live session video 'Ajari Aku Main Bareng Version' (2026), album 'Semai' (2026), serta film pendek, single, dan video klip 'Optimis' (2026).