Para Pengamat Kompak Soroti Veda Ega Pratama: Manajemen Balapan Matang, Tapi Gaya 'Gaspol' Bawa Risiko Tinggi

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Jumat, 1 Mei 2026 | 12:05 WIB
tuai pujian dan kritik atas aksi berani Veda Ega Pratama Ist.
tuai pujian dan kritik atas aksi berani Veda Ega Pratama Ist.

Jerez, SUARA PEMBARUAN — Performa impresif Veda Ega Pratama yang sukses bangkit dari posisi start ke-17 (P17) finis di P6 pada Moto3 Spanyol 2026 di Sirkuit Jerez tidak hanya menambah koleksi poin penting, tetapi juga menyedot perhatian dunia balap. Sejumlah komentator, pengamat, dan media internasional memberikan tanggapan beragam tentang prestasi sekaligus gaya balap pembalap rookie asal Indonesia tersebut.

 

Pujian tertinggi datang dari pucuk pimpinan timnya. Hiroshi Aoyama, Manajer Honda Team Asia yang juga mantan pembalap MotoGP, secara khusus menyoroti kematangan Veda di tengah situasi balapan yang penuh tekanan.

"Veda Pratama memulai dari posisi ke-17 dan dengan cepat maju ke grup kedua, di mana ia terus berjuang sepanjang balapan. Ia menunjukkan manajemen balapan yang kuat dan kecepatan yang baik sepanjang balapan. Di bagian akhir, ia mampu berjuang untuk lima posisi teratas dan finis di posisi ke-6," puji Aoyama seperti dilansir resmi timnya.

Pengakuan ini diperkuat oleh analisis media internasional. Media Jerman ternama, Speedweek, menyebut performa Veda sebagai salah satu yang paling menonjol dalam balapan Moto3 Spanyol 2026. "Performa Veda Ega Pratama sekali lagi luar biasa. Pembalap rookie Honda Asia ini finis di posisi keenam, di belakang Alvaro Carpe," tulis mereka dalam laporannya. Hal yang sama juga diutarakan oleh komentator MotoGP yang terkesima melihat gebrakan Veda dengan menyebut, "Indonesia, kalian memiliki bintang!" setelah aksinya di Brasil.

Tak hanya dari sisi teknis, kepribadian Veda di luar lintasan juga mendapat sorotan positif luas, khususnya dari netizen Tanah Air. Saat naik podium di Moto3 Brasil 2026, Veda memilih minggir saat para pembalap lain melakukan selebrasi menyemprot sampanye. Aksi "menepi" tersebut viral dan dinilai publik sebagai bentuk integritas dan keteguhan sikap yang langka di usianya yang masih muda.

 

Di balik pujian, perjalanan Veda di Jerez tidak lepas dari berbagai sorotan kontra. Tantangan paling nyata adalah hasil yang kurang memuaskan di sesi latihan. Veda hanya mampu finish di posisi ke-24 pada sesi Free Practice 1 (FP1). Sebuah analisis teknis mengungkap bahwa ia kehilangan banyak waktu di sektor 2 dan 3 yang penuh tikungan cepat, serta tertinggal signifikan di trek lurus akibat defisit top speed mencapai 5,6 km/jam dari rival utama yang menggunakan motor KTM.

Analisis gaya balap juga menjadi perdebatan. Dalam analisis media Malaysia, gaya Veda disebut agresif dan eksplosif, namun pendekatan ini dianggap berisiko jika tidak bisa mengelola ban dengan baik, membuatnya rentan kehilangan momentum di akhir balapan.

Bukan tanpa alasan; bayang-bayang kecelakaan di Moto3 Amerika Serikat (gagal finis setelah start dari posisi ke-4) masih membekas. Saat itu, Veda mengakui kesalahannya: "Saya sedikit melebar, lalu membuka gas terlalu agresif saat motor masih miring, sehingga kehilangan kendali." Ia juga dinilai cepat menunjukkan kemampuan maksimal di awal sesi (keluar dari sarung), berbeda dengan pembalap rival yang lebih sabar menyimpan strategi. Di lintasan seperti Jerez yang hanya sedikit menyediakan ruang untuk bermanuver, risiko dari start belakang dan tekanan dari belakang menjadi konsekuensi logis dari gaya "gaspol sejak awal".

 

Pencapaian Veda yang konsisten memuncaki klasemen Rookie dengan 37 poin, unggul 9 poin dari pembalap KTM Brian Uriarte, adalah bukti kapasitasnya di musim debut. Rekor top speed tertinggi di kelas Moto3 Jerez (222,2 km/jam) yang ia pecahkan menunjukkan bahwa ia memiliki kecepatan luar biasa yang bisa diandalkan di trek lurus.

Namun, kekurangan di tikungan teknis dan potensi ketidakstabilan di awal balapan harus segera diatasi. Manajer tim Aoyama optimistis tren positif ini bisa dilanjutkan di seri berikutnya di Le Mans, Prancis, pada 8-10 Mei 2026 mendatang, asalkan Veda bisa memadukan keberanian dengan kalkulasi risiko yang lebih matang.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polri Resmi Gelar E-Sport Kapolri Cup 2026

Minggu, 7 Juni 2026 | 17:32 WIB
X