Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Setelah mencatatkan prestasi di sejumlah festival film dalam dan luar negeri selama dua tahun terakhir, film horor Setan Alas! (The Draft!) akhirnya bersiap menyapa penonton Indonesia. Karya yang disutradarai Yusron Fuadi ini dijadwalkan tayang serentak di 181 layar bioskop mulai 5 Maret 2026, menandai babak baru perjalanan film yang lahir dari lingkungan akademik.
Proses produksi film ini berawal dari sebuah tantangan internal di Sekolah Vokasi UGM. Pimpinan kampus mendorong pengembangan laboratorium multimedia agar lebih produktif dan aplikatif. Tantangan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi proyek kreatif berbasis praktik, salah satunya melalui produksi film panjang. Dari sinilah Setan Alas! mulai digarap sebagai karya kolaboratif yang melibatkan dosen, mahasiswa, hingga mitra eksternal.
Pengambilan gambar dilakukan di sebuah vila di kawasan Kaliurang dengan melibatkan sekitar 70 kru. Separuh di antaranya merupakan mahasiswa yang terlibat langsung dalam berbagai divisi produksi. Selama 10 hari proses syuting, tim menghadapi tantangan teknis yang tidak ringan, terutama faktor cuaca. Hujan yang kerap turun memengaruhi jadwal produksi, sementara sebagian kru yang masih dalam tahap belajar harus beradaptasi cepat dengan ritme kerja profesional. Namun justru dalam dinamika itulah proses pembelajaran terjadi secara nyata.
Dari sisi kreatif, film berdurasi 84 menit ini mengangkat kisah lima mahasiswa yang menghabiskan akhir pekan di sebuah vila tua di tengah hutan. Ketegangan tidak dibangun lewat efek kejut berlebihan, melainkan melalui konflik psikologis, prasangka antartokoh, serta atmosfer mencekam yang perlahan tumbuh. Pendekatan ini membuat Setan Alas! tampil berbeda dari horor arus utama yang lazim mengandalkan jumpscare.
Judul Setan Alas! sendiri dipilih sebagai refleksi keragaman ekspresi bahasa Indonesia, termasuk ragam umpatan yang akrab dalam keseharian. Film ini juga menjadi proyek gotong royong lintas komunitas. Ratusan siswa SMK dari Yogyakarta dan Solo dilibatkan sebagai figuran, termasuk dalam adegan yang menghadirkan sosok zombie sebagai elemen teror dalam cerita.
Apresiasi terhadap film ini mengalir sejak masa edar festival. Dalam ajang JAFF Indonesian Screen Awards 2023, film ini meraih penghargaan Best Film, Best Storytelling, dan Best Editing. Pujian juga datang dari sineas ternama Joko Anwar yang menyebut film ini sebagai karya horor Indonesia yang “Amazing, Awesome, dan Mindblowing”.
Di level internasional, Setan Alas! menjalani pemutaran perdana dunia di Fantastic Fest 2024 di Texas, Amerika Serikat. Film ini juga diputar di London dan Toronto pada tahun yang sama, memperluas jangkauan penontonnya sekaligus memperkuat posisi sebagai film independen yang mampu bersaing dengan karya-karya peraih Piala Citra.
Menariknya, semesta cerita Setan Alas! tidak berhenti di layar lebar. Dunia film ini dikembangkan lebih jauh melalui gim digital berjudul “Ganyang Setan Alas”. Proyek tersebut berawal dari program magang mahasiswa yang mengembangkan versi Android, sebelum akhirnya diperluas ke platform PC. Pengembangan gim berlangsung selama tiga tahun dan melibatkan lima mahasiswa yang menjadikannya sebagai topik skripsi.
Menurut Wakil Dekan Sekolah Vokasi UGM, Wiryanta, proyek gim ini menjadi bagian dari integrasi kurikulum dan kerja sama industri. Mahasiswa tidak hanya belajar soal desain dan pemrograman, tetapi juga manajemen aset digital, optimalisasi sistem, hingga strategi distribusi. Target berikutnya adalah membawa gim tersebut ke platform distribusi global seperti Steam agar memiliki daya saing internasional.
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Agus Maryono, menilai proyek ini sebagai model kolaborasi lintas disiplin yang patut dikembangkan. Produksi film tidak hanya melibatkan aspek seni, tetapi juga teknologi informasi, manufaktur, hingga manajemen dan pemasaran. Sinergi tersebut dinilai membuka peluang bagi universitas untuk menjadi pusat produksi karya kreatif berbasis riset dan praktik.
Dengan jadwal tayang nasional mulai 5 Maret 2026, Setan Alas! bukan sekadar film horor, melainkan representasi kolaborasi pendidikan dan industri kreatif. Dari ruang kelas hingga festival internasional, film ini menunjukkan bahwa karya berbasis kampus pun mampu menembus pasar luas dan bersaing di panggung global.