seni-budaya

Jejak Peradaban Keraton Yogyakarta, Menjawab Tantangan Budaya Masa Kini  

Sabtu, 6 Desember 2025 | 15:16 WIB
Sambutan GKR. Bendara dalam Seminar Jejak Peradaban (Philip)

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Resiliensi budaya menjadi sorotan utama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam Seminar Jejak Peradaban yang berlangsung Sabtu (06/12/2025) di Hotel Morazen, Kulonprogo. Seminar ini digelar sebagai upaya membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif di tengah era disrupsi. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran akhir tahun Keraton Yogyakarta yang ditujukan untuk memperkaya wawasan akademik sekaligus menampilkan praktik terbaik dalam pengelolaan warisan budaya.

Seminar dipimpin oleh Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya, yang bertindak sebagai penanggung jawab sekaligus ketua acara. Dalam sambutannya, GKR Bendara menegaskan bahwa seminar ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan budaya. Menurutnya, Keraton Yogyakarta memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan ruang dialog yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia menekankan bahwa kegiatan ini diselenggarakan bukan hanya untuk memperkaya wawasan akademik, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa Keraton Yogyakarta terbuka terhadap kolaborasi lintas sektor. Keraton, katanya, bukanlah institusi eksklusif dan tertutup, melainkan bagian dari ekosistem budaya yang hidup bersama masyarakat. Harapan yang dibawa sederhana, yakni agar masyarakat lebih mengenal Keraton, tidak sungkan untuk bekerja bersama, dan melihat bahwa warisan budaya yang dimiliki dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan hari ini.

GKR Bendara menambahkan bahwa resiliensi budaya di era disrupsi menuntut Keraton untuk tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga melakukan transformasi agar tetap relevan bagi generasi muda. Ia menegaskan keyakinannya bahwa generasi milenial dan Gen Z bukanlah generasi yang jauh dari budaya, melainkan generasi yang membutuhkan akses informasi yang tepat, akurat, dan bertanggung jawab. Keraton hadir untuk menjawab kebutuhan itu, sekaligus memastikan bahwa budaya tidak berhenti sebagai simbol masa lalu, melainkan menjadi energi yang menggerakkan masa depan. Lebih jauh, ia menekankan bahwa Keraton Yogyakarta ingin membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif, di mana masyarakat dapat berpartisipasi aktif. Budaya, menurutnya, bukan hanya milik Keraton, tetapi milik bersama. Dengan adanya seminar ini, publik diharapkan dapat memberikan umpan balik secara langsung sehingga Keraton bisa terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Inilah cara menjaga relevansi sekaligus memperkuat posisi budaya sebagai fondasi pembangunan bangsa.

Koordinator kegiatan, Fajar Wijanako, menambahkan bahwa seminar ini diharapkan menjadi ruang publik yang inklusif, mempertemukan akademisi, praktisi, dan organisasi kebudayaan dalam dialog strategis bersama Keraton. Ia menegaskan bahwa harapan Keraton sederhana, yakni agar masyarakat lebih memahami dan mengenal Keraton Yogyakarta serta tidak sungkan untuk bekerja bersama melalui berbagai kegiatan. Tema seminar kali ini selaras dengan pameran arsip tahunan Keraton Yogyakarta, khususnya masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pada periode tersebut, Keraton melakukan berbagai transformasi simbol dan membuka akses budaya yang sebelumnya eksklusif, sehingga berdampak pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Sultan HB VIII bahkan mengubah simbol Keraton lebih dari lima kali, termasuk mengganti mahkota bergaya kolonial Belanda dengan Topi Sino yang kemudian menjadi ikon budaya. Perubahan itu juga menyentuh aspek ekonomi, di mana produk-produk yang dahulu hanya eksklusif di dalam tembok Keraton kini berkembang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Fajar menekankan bahwa konservasi budaya tidak cukup sebatas fisik dan ritual, melainkan juga transformasi naratif agar warisan budaya tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen Z. Ia menambahkan bahwa Indonesia sebagai salah satu pengguna terbesar media sosial harus mampu mengisi ruang digital dengan budaya sendiri, bukan sekadar menjadi konsumen tetapi juga produsen budaya.

Diskusi seminar mencakup inisiatif budaya masa Sultan HB VIII, seperti tradisi wellness melalui jamu dan jampi, kerajinan perak, hingga arsitektur visual. Seminar ini juga mengusung konsep experiential, di mana peserta tidak hanya berdiskusi tetapi juga merasakan pengalaman budaya. Salah satu program tambahan adalah dining experience berupa jamuan Rijsttafel, santap malam ala bangsawan yang populer sebagai bentuk fine dining. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan potensi pariwisata berbasis budaya di kawasan Kulonprogo. Selain itu, seminar ini juga menyoroti pentingnya pembangunan berbasis kebudayaan, termasuk penguatan soft power dan sumber daya manusia. Dengan peserta yang heterogen, mulai dari akademisi hingga praktisi pariwisata, seminar diharapkan menjadi ruang diskusi publik yang tidak terbatas. Fajar menegaskan bahwa seminar ini bukan lagi berfokus pada bentuk academic-based semata, tetapi pada best practice dari setiap pengelolaan warisan budaya. Sehingga tidak hanya melulu pada pencarian dan pengembangan, tetapi juga pada pendayagunaan dari setiap warisan budaya tersebut.

Keraton Yogyakarta menegaskan tujuan besar dari kegiatan ini adalah membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif. Seminar diharapkan mampu menggugah kembali memori kolektif tentang kekayaan budaya dan pariwisata Keraton Yogyakarta, memberikan gambaran praktik terbaik dalam pengelolaan warisan budaya, serta menjadi ruang strategis bagi publik untuk memberikan umpan balik secara langsung. Dengan penyelenggaraan seminar ini, Keraton Yogyakarta berupaya memperkuat posisi budaya sebagai fondasi pembangunan, sekaligus menjawab tantangan era disrupsi melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor. Lebih dari itu, seminar ini menjadi momentum untuk menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang relevan bagi masa kini dan masa depan.

 

Tags

Terkini