Wawes bukan hanya merilis lagu, tetapi juga ikut mendokumentasikan sejarah. Pada 2020 mereka menerbitkan buku “Babad Alas Dangdut Anyar” yang menelusuri perubahan wajah dangdut Jogja, sekaligus merilis album penuh “Restu”.
Sejak EP pertama (2018), album “Restu” (2020), hingga “Acoustic Live” (2021), Wawes terus mendorong batasan musikal mereka. Single demi single mereka mulai dari “Kabur Kanginan”, “Cerito Manis”, “Ra Nalar”, hingga kolaborasi dengan NDX AKA, mendapat tempat di telinga anak muda.
Kini, hanya tersisa tiga anggota inti yakni Dien Ganjar (vokal), Louis David (kendang) dan Bayu Garnida (gitar). Namun di setiap panggung dan sesi rekaman, mereka dibantu oleh para session player yang ikut memperkuat identitas musik Wawes.
Di usia 13 tahun, “Duwa” hadir sebagai penanda bahwa eksplorasi mereka belum selesai. “Dangdut bisa kok nge-blend sama genre apapun,” tegas Louis. “Kami ingin membawa dangdut Jogja lebih jauh, bahkan ke pasar Asia.”
Dien menambahkan, “Semoga ‘Duwa’ bisa membuat dangdut naik kelas. Bahwa dangdut nggak gitu-gitu aja.” Bayu menutup, “Di usia ini, Wawes tetap akan terus mencari hal baru. Ini baru awal.”