seni-budaya

Wawes gandeng Sophia Kolaborasi “Duwa” Lintas Negara

Kamis, 20 November 2025 | 10:25 WIB
Grup music dangdut asal Yogya bersama vokalis Malaysia, Sophia rilis “Duwa”. (Ist)

YOGYAKARTA,  SUARA PEMBARUAN - Di sebuah studio musik di Kuala Lumpur, suara kendang khas Jawa berpadu dengan beat elektronik yang memompa ritme. Di sudut ruangan lain, suara lembut tapi tegas milik Sophia Liana berusaha menyatu dengan vokal Dien Ganjar. Semua orang tahu, momen itu bukan sekadar sesi rekaman biasa, melainkan titik baru perjalanan Wawes, grup dangdut asal Yogyakarta yang telah 13 tahun menapaki industri musik.

Akhir 2025 menjadi momentum penting bagi Wawes. Mereka merilis single terbaru bertajuk “Duwa”, karya yang bukan hanya memadukan banyak genre, tetapi juga menyatukan dua kultur musik dari dua negara: Indonesia dan Malaysia. Lewat kolaborasi ini, dangdut kembali menunjukkan kemampuannya menembus batas dan bertransformasi.

Arena Eksperimen

“Duwa” awalnya hanyalah draft lama yang diciptakan Louis David. Versi awalnya bahkan tidak direncanakan sebagai proyek kolaborasi. Namun pertemuan Wawes dengan Faithful Music, label di Kuala Lumpur yang sedang mencari materi berbahasa Jawa untuk diolah menjadi musik elektronik, membuka jalan tak terduga.

“Sophia Liana justru menulis sendiri bagian liriknya dengan campuran bahasa Melayu dan Indonesia,” tutur Louis. “Wawes sendiri biasanya memakai bahasa Jawa. Jadilah lagu dengan tiga bahasa sekaligus, Indonesia, Melayu, Jawa dan itu yang membuatnya semakin hidup.”

Secara tema, “Duwa” berkisah tentang cinta yang dikhianati. Tentang seseorang yang terpaksa mengakhiri hubungan meski hatinya masih terikat erat. Judulnya berasal dari kata “mendua” yang dipadatkan menjadi “Duwa” agar lebih ringan dan mudah diingat. “Pesannya sederhana,” tambah Louis. “Kalau disakiti, jangan buta karena cinta. Kita harus siap pergi.”

Kolaborasi ini menjadi pengalaman perdana Wawes menggarap lagu dengan aransemen elektronik penuh. Bagi mereka, tantangan utamanya bukan pada teknis musik, melainkan menyatukan karakter vokal yang sangat berbeda.

“Sophia itu kuat di EDM, Hip Hop, dan RnB. Kami justru senang, karena itu memberi ruang eksplorasi yang jauh lebih luas,” kata Dien Ganjar. “Hasil akhirnya membuat kami menemukan warna baru dari Wawes.”

Meski berkolaborasi lintas negara, sentuhan dangdut tetap menjadi napas utama. Cengkok Dien, kendang Louis, dan gitar Bayu berpadu dengan beat elektronik yang digarap bersama musisi Yogyakarta, Bagus Muhammad (Pendhoza) dan Ryan Pianos.

Proses rekaman final dilakukan di Kuala Lumpur dengan Adib Hussin sebagai sound engineer sekaligus vocal director Sophia. Beberapa revisi diperlukan untuk mencari titik temu antara gaya Malaysia dan karakter dangdut Jawa yang khas.

“Yang paling sulit justru menyatukan taste,” kenang Bayu. “Tapi akhirnya kita ketemu warna yang pas dengan warna ‘Duwa’.”

Setelah itu, proses mixing dan mastering dirampungkan oleh Bagus Muhammad di Yogyakarta. Sementara video klipnya digarap sepenuhnya oleh pekerja kreatif Malaysia, memantapkan kolaborasi ini sebagai proyek lintas negara yang sesungguhnya.

13 Tahun Berkarya

Tanggal 22 November 2025 menandai 13 tahun perjalanan Wawes di jagat musik Indonesia. Berawal dari OM Wawes, proyek eksperimental Dien Ganjar dan Tony Kurniawan—keduanya personel band reggae Jogjamming, grup ini perlahan berkembang menjadi salah satu ikon dangdut Jogja yang paling konsisten menghasilkan karya.

Halaman:

Tags

Terkini