SEORANG karyawati di sebuah hotel di kawasan Yogyakarta, sontak tertegun beberapa saat, ketika seorang tamu hotel yang akan menginap mempertanyakan soal vaksinasi Covid-19 bagi pekerja hotel tersebut.
Karyawati itu seolah ‘terpecut’, dia antipati terhadap vaksin Covid-19 dan selalu menjadi provokator penolak vaksin. Sedang sang tamu, jelas-jelas menyebut, sudah vaksin lengkap dan punya keterangan sehat atau bebas dari virus Covid-19 saat akan melakukan perjalanan.
Tak ayal, pertanyaan sang tamu, “Apakah semua karyawan di sini sudah vaksin?” membuat karyawati hotel tersebut kehabisan kata-kata dan mengalihkan perhatian sang tamu dengan mempersilahkan ke kamar tujuan.
Kisah itu merupakan underline dari film pendek berjudul ‘Locker’ yang diproduksi oleh Dinas Pariwisata Pemkab Sleman bersama Himpunan Humas Hotel Yogyakarta.
Film pendek tentang edukasi pentingnya vaksinasi Covid-19 itu, telah ditayangkan di cannal Youtube Channel Himpunan Humas Hotel Yogyakarta dan Wisata Sleman.
Ketua Himpunan Humas Hotel Yogyakarta Leno Christiannaldo membenarkan, film pendek yang berdurasi kurang lebih 15 menit ini sebagai sarana menyadarkan masyarakat agar mau ikut vaksin, demi mewujudkan #JogjaMembaik yang tidak lain karena herd immunity tercipta.
Film pendek ini disutradai oleh Nur Arifin dengan para pemainnya adalah insan pariwisata dari sektor perhotelan seperti Wiwid Widyastuti, Venta Pramusanti, T. Cilik Pamungkas, Joko Sugiarto, Abdurrahman, Stevy Yola, dan Leno Christiannaldo itu menyajikan pesan sederhana, sesuai dengan kehidupan sehari-hari.
Yogyakarta sebagai Kota Wisata dan Pendidikan, lumpuh secara ekonomi, lantaran zero penggunjung. Padahal, sektor andalannya hanya dari pariwisata.
Film “Locker” ini diproduksi dalam waktu kurang lebih dua hari, dengan setting lingkungan tempat tinggal dan ruang kerja di hotel.
Leno Christiannaldo menegaskan Himpunan Humas Hotel (H3) Yogyakarta selalu menyuarakan agar masyarakat disiplin protokol kesehatan meski telah disuntik vaksin. Ajakan ini juga dilakukan dalam film pendek tersebut.
Salah satu pemain, Wiwid Widyastuti mengatakan film ini memberikan penjelasan bahwa memang vaksin itu penting agar pandemi cepat berlalu. Selain itu sertifikat vaksin sudah menjadi syarat administrasi di mana pun.
Pesan sederhana, yang dikemas melalui visual ini akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
Masih Banyak
Kesadaran kolektif akan pentingnya herd immunity memang butuh kerja-keras semua pihak, bukan saja pemerintah, tetapi seluruh pemangku kepentingan di tingkat terendah. Seperti diungkapkan
Ketua Satuan Tugas Percepatan Vaksinasi DIY, Sumadi, masih ada sejumlah warga DIY yang menolak vaksin Covid-19.
Menolak karena termakan berita yang tidak benar, meski angkanya tidak signfikan namun Sumadi menyebut, masyarakat tervaksin merupakan kunci mencapai herd immunity atau kkebalan komunal, hingga akhirnya aktivitas bisa berlangsung normal.
Capaian vaksinasi dosis pertama, 100 persen ditargetkan pada akhir November mendatang untuk. Sementara dosis kedua, ditargetkan pada awal Januari 2022 mendatang.
Disebutkan Sumadi, alasan tidak mau di-vaksin Covid-19, karena efek setelah vaksin, takut dan memiliki trauma dengan jarum suntik. Namun kondisi ini harus segera diantisipasi, dengan edukasi dan penyadaran. (Fuska Sani Evani)