seni-budaya

Kita Berkebaya ‘Berdaya Lewat Kebaya’ di Panggung Performa ARTJOG 2025

Kamis, 7 Agustus 2025 | 23:27 WIB
Taks show program Kita Berkebaya dalam panggung ARTJOG 2025. (SPnews.Fuska SE)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Dalam semarak Festival Seni Rupa Kontemporer ARTJOG 2025 yang mengusung tema Motif: Amalan, panggung performa ARTJOG kembali menjadi ruang pertemuan gagasan dan ekspresi.

Salah satu momen istimewa tahun ini adalah kehadiran program Kita Berkebaya, persembahan dari Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Narasi, yang digelar bertepatan dengan perayaan Hari Kebaya Nasional.

Program ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah gerakan budaya yang menghidupkan kembali kebaya sebagai simbol identitas, ekspresi diri, dan pemberdayaan perempuan Indonesia lintas generasi. Melalui rangkaian aktivitas kreatif dan edukatif, Kita Berkebaya mengajak publik—khususnya generasi muda—untuk lebih dekat dan bangga mengenakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari.

Acara dibuka dengan pemutaran film pendek #KitaBerkebaya yang sebelumnya telah tayang di kanal YouTube Indonesia Kaya. Film ini menampilkan delapan publik figur dan melibatkan 250 perempuan dari komunitas berkebaya di Yogyakarta, sebagai bentuk nyata dari gerakan yang berdampak langsung pada ekosistem kebaya—mulai dari penjahit, pembatik, perancang busana, hingga pelaku UMKM.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian menegaskan bahwa kebaya bukan hanya warisan estetika, tetapi juga kekuatan ekonomi. “Kami ingin gerakan ini tidak berhenti pada visual yang indah, tapi benar-benar menggerakkan ekosistem. Kebaya bisa menjadi pintu masuk untuk menghidupkan UMKM, pengrajin kain tradisional, dan pelaku industri kreatif lainnya,” ujarnya.

Salah satu sorotan utama adalah talkshow bertajuk Berdaya Lewat Kebaya: Warisan Budaya sebagai Ruang Ekspresi, yang menghadirkan Mbakyu Berkebaya, content creator, dan GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura), Pengageng Kawedanan Panti Budaya Pura Mangkunegaran. Diskusi ini membedah kebaya dari berbagai sudut—sejarah, filosofi, pengaruh budaya Jawa, hingga relevansinya dalam tren fesyen masa kini.

“Kebaya bukan hanya kain dan jahitan, tapi cerita tentang perjalanan perempuan Indonesia. Generasi muda punya peran penting untuk memberi nafas baru lewat ide, kolaborasi, dan kreativitas,” tutur Gusti Sura.

Kebaya dan Gaya dan Harmoni

Acara juga menghadirkan sesi interaktif Padu Padan Kebaya, di mana peserta diajak bereksperimen memadukan kebaya dengan wastra Indonesia seperti batik, tenun, dan songket sesuai gaya masing-masing. Di penghujung acara, penampilan dari Lantun Orchestra menutup rangkaian dengan harmoni musik tradisional yang dipadukan dengan aransemen modern, menciptakan pengalaman artistik yang mendalam.

Kita Berkebaya tak berhenti di Yogyakarta. Setelah roadshow di Jakarta dan Bandung, gerakan ini akan terus menyasar komunitas-komunitas di berbagai kota, termasuk komunitas olahraga dan otomotif perempuan. Meski belum ada jadwal pasti ke luar Pulau Jawa, Bakti Budaya Djarum Foundation membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas jangkauan gerakan ini.

“Kami ingin kebaya menjadi bagian dari gaya hidup. Anak muda bisa bilang, ‘Ini kebaya nenekku,’ dan menjadikannya cerita. Kebaya bisa jadi simbol keren, berkelas, dan penuh makna,” tambah Renitasari.

Dengan semangat inklusif dan kolaboratif, Kita Berkebaya bukan hanya merayakan warisan budaya, tetapi juga menghidupkan ekonomi kreatif, memperkuat identitas perempuan Indonesia, dan menjadikan kebaya sebagai bagian dari masa kini dan masa depan.

 

 

Tags

Terkini