Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Sebuah ajakan untuk kembali ke alam atau istilah kerennya Back to nature kembali coba didengungkan oleh Baraka Films melalui film “Seribu Bayang Purnama”.
Disutradarai Yahdi Jamhur bersama dengan penulis skenario nominator FFI 2014 dan peraih 2 piala Maya kategori penulis skenario terbaik Swastika Nohara, memperkuat alur film “Seribu Bayang Purnama” yang mengangkat tema kehidupan petani Indonesia ini.
Didukung oleh para bintang seni peran, menjadikan kisah Putro Purnomo (Marthino Lio) yang memperjuangkan pertanian alami bersama ayahnya (Nugie), yang ditentang oleh Ayah Ratih (Whani Dharmawan) dengan sedikit kisah anak muda antara Putro dan Ratih (Givina Lukita Dewi) mengalir sedemikian apiknya hingga 128 menit mengalir tanpa terasa.
Kisah drama keluarga berdasar kisah nyata perjuangan para petani di pelosok negeri ini adalah bentuk kritik sosial terhadap sistem pertanian yang timpang, konflik sosial sebagai metafora dari kondisi masyarakat, tekanan kapitalis industri seperti tengkulak, mahalnya biaya produksi, dan minimnya dukungan.
Melalui visual yang kuat dan narasi yang menyentuh, tokoh utamanya Putro Purnomo kembali ke desanya dan bertekad membangun kembali tanah warisan keluarganya dengan metode pertanian alami seperti sang ayah.
Tantangan besar muncul dari keluarga rival, termasuk dilema cintanya dengan Ratih, pemilik toko pupuk kimia yang juga anak dari saingan keluarganya. Putro jatuh cinta pada Ratih, pemilik toko pupuk kimia yang juga anak dari keluarga rivalnya. Hubungan mereka menjadi simbol dari dilema antara tradisi dan modernitas, antara idealisme dan kompromi.
Dengan alur yang emosional, sinematografi yang memikat, dan pesan yang kuat, film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran.
“Film dengan tema pertanian mungkin masih terdengar asing di perfilman Indonesia. Padahal dunia pertanian ini merupakan salah satu bidang yang sangat penting bagi negara agraris seperti Indonesia. Melalui film ini kami mencoba mengangkat cerita kehidupan petani dengan segala suka dukanya sehingga petani ini bisa terangkat derajatnya,” ungkap Yahdi Jamhur sang sutradara sekaligus founder dari Baraka Films. Ia menambahkan ide awal dari film ini berawal dari kegelisahan akan nasib petani yang kesejahteraannya masih jauh dibawa ideal.
Disajikan dengan dialog berbahasa Jawa yang penuh makna dengan visual pedesaan . Penonton diingatkan bahwa di balik setiap butir nasi yang kita makan, ada cerita perjuangan yang panjang.
Putro Purnomo, menjadi simbol generasi muda yang mencoba kembali, namun di balik semua konflik eksternal, Putro juga bergulat dengan keraguan diri dan tekanan untuk membuktikan bahwa idealismenya bukan sekadar mimpi.
Mengambil beberapa lokasi shooting di Kabupaten Bantul dan Sleman pada akhir tahun lalu dengan melibatkan warga lokal untuk berperan dalam film ini, Film "Seribu Bayang Purnama akan tayang serentak di jaringan bioskop nasional pada 3 Juli 2025 ini .
Dampak film ini juga diharapkan bisa menginspirasi generasi muda untuk kembali ke desa dan mulai menerapkan proses pertanian alami berkelanjutan serta mempertahankan budaya dan nilai-nilai yang ada di desa. Sisi lain yang juga coba diangkat dari film ini adalah permasalahan yang kerap ditemui oleh petani mulai dari kesulitan untuk memulai produksi karena tidak memiliki modal sehingga selalu berhadapan dengan tengkulak serta semakin tingginya biaya pupuk dan juga pestisida yang sangat penting untuk menjaga kualitas pertaniannya, sekaligus menjadi bahan renungan bersama tentang keberlangsungan keberadaan petani di negara agraris ini.
Para stakeholder film Seribu Bayangan Purnama ini sepakat bahwa seluruh keuntungan tiket film ini akan digunakan sepenuhnya untuk menjalankan program pemberdayaan petani di tanah air.