Dampak Blokade Jalan, 3.000 Jiwa Karyawan dan Keluarga PT Agricinal Menderita

Photo Author
Usmin., Suara Pembaruan
- Selasa, 17 Desember 2024 | 09:26 WIB
Mess PT Agricinal tampak sepi karena aktivitas di perkebunan terhambat, akibat jalan akses keluar masuk menuju kebun diportal warga.(Foto/Ist)
Mess PT Agricinal tampak sepi karena aktivitas di perkebunan terhambat, akibat jalan akses keluar masuk menuju kebun diportal warga.(Foto/Ist)

Bengkulu, SUARAPEMBARUAN-Sebanyak 3.000 jiwa karyawan dan keluarga perusahaan perkebunan PT Agricinal di Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu menderita akibat diblokade masyarakat sejak 6 November 2024.

Aksi blokade ini dilakukan ratusan masyarakat dari Desa Pasar Sebelat, Talang Arah, Suka Negara, Suka Medan dan Sukamerindu. Mereka tergabung dalam Forum Masyarakat Bumi Pekal (FMBP).

Aksi blokade berlangsung sejak 41 hari lalu atau dimulai 6 November 2024. Tindakan blokade ini dipicu warga menuding PT Agricinal melakukan kegiatan perkebunan kelapa sawit ilegal atau tidak memiliki dokumen Hak Guna Usaha (HGU) terbaru tahun 2020.

Pantauan di lapangan, sebanyak 5 akses jalan masuk ke areal perkebunan PT Agricinal semuanya ditutup masyarakat menggunakan material koral, dan setiap pintu masuk ke dalam perkebunnan dijaga ketat oleh masyarakat. Akibatnya, aktivitas di perkebunan PT Agricinal lumpuh.

Manager legal PT Agricinal, Afriyadi, menjelaskan blokade berlangsung sejak 6 November 2024. Akibat blokade sebanyak 828 karyawan dan 3.000 jiwa keluarga karyawan menderita.

“Sejak blokade semua aktifitas perusahaan dan karyawan terganggu. Akses truk antarjemput anaknsekolah terganggu terutama diawal pemblokadean. Truk-truk diperiksa, jalan-jalan dipasang kawat berduri dan ditumpuk koral,” ungkap Afriyadi, saat ditemui di PT Agaricinal, Minggu (16/12/2024).

Selain terganggunya kegiatan sekolah juga ribuan petani yang biasa menjual buah sawit ke pabrik tidak bisa masuk. “Kita punya ribuan petani mitra mereka selama ini menjual buah sawit ke perusahaan kami, tapi setelah terjadi diblokade mereka terpaksa menjual ke tempat lain yang lebih jauh,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Ketua kelompok koperasi petani mitra, PT. Agricinal, Partono . Ia mengatakan, akibat blokade pihaknya harus menjual buah sawit ke pabrik yang letaknya lebih jauh. Kondisi ini membuat para petani mitra harus menambah ongkos angkut.

“Biasanya kalau jual ke PT Agricinal biaya antar buah sawit Rp 500. 000 per mobil L 300 muatan 3 ton. Sekarang akibat blokade menjadi Rp 750.000,” keluhnya.

Demikian pula soaal pasokan BBM solar yang biasa digunakan untuk penerangan dan kegiatan di perkebunan dibutuhkan sebanyak 30.000 ton per bulan karena blokade mereka hanya mampu dapatkan hanya 5 ton per bulan. “Kami memasukkan BBM nekat-nekat aja,” ungkap Afriyadi.

Pasokan gas untuk memasak juga terhambat. Karyawan memasukkan gas ke dalam menembus zona blokade dengan cara dicicil, tak berani membawa truk. “Gas masuk ke perusahaan dengan cara dicicil, tak berani masuk truk karena akan dicegat dilarang masuk,” ujar dia.

Ratusan Ton Tak Terjual

Akibat blokade menyebabkan pihak PT Agricinal tidak bisa menjual CPO yang mereka produksi sebanyak 700 ton. “Sekitar 700 ton CPO kami tertahan tak bisa keluar. Bila terus diblokade maka kualitasnya akan menurun serta harga jual sangat jatuh,” keluhnya.

Penderitaan berikutnya, sejak blokade berlangsung maka terjadi penundaan pembayaran gaji karyawan. “Bagaimana mau membayar gaji jika CPO kami tidak bisa dijual. Kasihan sekali kondisi karyawan padahal sebentar lagi akan natal dan tahun baru,” keluh Afriyadi.

Halaman:

Editor: Usmin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

Kajati Resmikan Kantor Kajari Bengkulu Tengah

Kamis, 23 Januari 2025 | 17:20 WIB
X