“Malam minggu, rame banget Tunjungan. Kami memilih siomay, tahu walik dan bakso tahu,” kata Ketua PASMAN Korwil Surabaya, Tri Sugeng Riyadi, yang diamini Bopo Riyadi.
Dokter gigi Nurhasana, asli Pamekasan, Madura, juga kagum menyaksikan langsung pertunjukan musik jalanan dengan genre beragam, mulai pop sampai keroncong.
Pengunjung menikmati musik sambil nongkrong dan mlaku-mlaku.
Sementara pengunjung lainnya, Musri Leina, senang melihat pengambilan foto dan video para kawula muda berpakaian modis. Mereka lenggang lenggok di depan banyak orang. Ini merupakan pembinaan positif bagi generasi muda.
Aneka kerajinan untuk oleh-oleh seperti tas kain kanvas bermotif, tas jinjing batik, kaos, aneka gelang, cincin dan pengikat rambut.
Kini, Tunjungan Romansa, telah hidup kembali. Lalu lalang wisatawan domestik, saat hari biasa 1.500 – 3.500 orang dan pada malam minggu naik drastis 5.000 – 6.000 pengunjung, menandakan ikon wisata kuliner utama ini menjadi jujugan turis.
Karena itu, banyak kreator konten digital merekam unik dan asyiknya mlaku-mlaku nang Tunjungan.
Saking majunya Tunjungan Romansa saat ini, banyak tokoh dan pejabat menggaungkan jargon, Durung nang Suroboyo nek durung mlaku-mlaku nang Tunjungan (Belum ke Surabaya jika belum jalan-jalan ke Tunjungan).
Tiga objek lainnya yang dikunjungi PASMAN 75, Tunel Kebun Binatang, Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar dan Taman Harmoni, Surabaya, pada 8-9 Agustus.
Artikel Terkait
JPKP Jatim Ungkap Kajian Dugaan Kerugian Negara Sektor Tambang Galian C di Banyuwangi, Soroti Lemahnya Penegakan Hukum
Buruh dan Sopir Ojol di Jatim Nikmati Pemutihan Denda Pajak Kendaraan Bermotor
Geger “CPNS Jalur Susulan” di Jatim, Kerugian Diklaim Tembus Rp20 Miliar