politik-hankam

Sudaryono Buka Suara soal Ricuh Diskusi di UGM, Bantah Kabur dan Klaim Sempat Kena Pukul

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:50 WIB
Menyoroti insiden kerusuhan saat diskusi publik di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta yang melibatkan Wamentan, Sudaryono. (Instagram.com / @sudaru_sudaryono - @faktaindo)

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Kericuhan yang mewarnai forum diskusi publik bertema Pancasila di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Yogyakarta, masih menjadi perhatian publik. Peristiwa yang terjadi pada Senin malam (15/6/2026) itu memunculkan beragam tanggapan dari pihak mahasiswa maupun para pejabat yang hadir sebagai narasumber.

Diskusi tersebut menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko.

Kericuhan terjadi ketika sesi diskusi berlangsung dan sejumlah mahasiswa naik ke area panggung. Situasi kemudian memanas hingga terjadi pelemparan gelas air mineral yang membuat jalannya acara tidak lagi kondusif.

Menanggapi berbagai spekulasi yang berkembang, Sudaryono membantah anggapan bahwa dirinya meninggalkan lokasi untuk menghindari dialog dengan mahasiswa. Ia menegaskan sejak awal kehadirannya dalam forum tersebut adalah untuk berdiskusi dan mendengarkan kritik secara langsung.

Menurut Sudaryono, dirinya tidak mempermasalahkan berbagai pertanyaan maupun kritik yang disampaikan peserta diskusi. Ia bahkan menyatakan siap menghadapi berbagai bentuk pertanyaan selama berlangsung dalam koridor dialog yang demokratis.

“Kami hadir untuk berdialog secara demokratis. Ditanya apa saja tidak masalah,” ujarnya dalam keterangan yang disampaikan melalui media sosial pada Selasa (16/6/2026).

Sudaryono juga mengungkapkan bahwa dirinya tetap berada di lokasi bersama Nusron Wahid ketika situasi mulai memanas. Namun kondisi berubah setelah terjadi aksi pelemparan air dan dugaan kontak fisik yang membuat aparat keamanan mengambil langkah pengamanan.

Ia mengaku sempat merasakan adanya dorongan atau pukulan di tengah kerumunan sebelum akhirnya petugas menyarankan para narasumber untuk meninggalkan area diskusi demi alasan keselamatan.

Meski demikian, Sudaryono menegaskan bahwa dirinya tidak berniat menghindari mahasiswa. Ia bahkan mengklaim sempat kembali keluar untuk melanjutkan komunikasi dengan peserta aksi setelah kondisi di luar gedung memungkinkan.

“Kalau ada yang mengatakan kami kabur, itu tidak tepat. Kami justru datang untuk berdiskusi,” katanya.

Di sisi lain, kalangan mahasiswa memiliki pandangan berbeda terkait penghentian forum tersebut. Salah satu anggota Serikat Mahasiswa UGM (SEMA UGM), Mesa, menyebut tindakan mahasiswa merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah yang dinilai belum cukup responsif terhadap berbagai aspirasi publik.

Menurut Mesa, kritik yang disampaikan mahasiswa harus dipahami sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Ia menilai ruang kritik perlu tetap dijaga agar masyarakat dapat menyampaikan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang dianggap bermasalah.

Mesa juga menilai ketegangan yang muncul dalam forum tersebut tidak dapat dilepaskan dari akumulasi kekecewaan sebagian masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.

Halaman:

Tags

Terkini