peristiwa

13 Orang Tewas dalam Ledakan Amunisi di Garut, TNI AD Lakukan Investigasi

Rabu, 14 Mei 2025 | 09:53 WIB
Potret lokasi peristiwa ledakan amunisi atau bahan peledak yang memakan korban jiwa di Garut, Jawa Barat. (X.com/@r4g4j1)


Garut, SUARA PEMBARUAN – Sebuah ledakan hebat terjadi di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Garut, pada Senin pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Ledakan ini terjadi saat kegiatan pemusnahan amunisi atau bahan peledak kadaluarsa yang dilakukan oleh Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) III Peralatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Lokasi kejadian berada di kawasan milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Dalam peristiwa tragis tersebut, tercatat 13 orang meninggal dunia, terdiri dari 4 anggota TNI AD dan 9 warga sipil.

Terkait kejadian ini, TNI AD melalui Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen Wahyu Yudhayana, menyatakan bahwa penyebab ledakan tersebut sedang diselidiki. Brigjen Wahyu mengungkapkan bahwa proses investigasi akan dilakukan secara menyeluruh dan pihaknya akan memberikan informasi lebih lanjut seiring dengan perkembangan penyelidikan.

"Investigasi akan dilakukan secara menyeluruh terhadap kejadian ini. Kami akan memberikan update terkait penyelidikan yang sedang berjalan," ujar Wahyu dalam keterangan resmi pada Selasa, 12 Mei 2025.

Wahyu juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kejadian ini, baik untuk anggota TNI AD yang gugur maupun bagi korban masyarakat sipil. Ia menegaskan bahwa prajurit TNI yang meninggal dunia adalah mereka yang memiliki dedikasi tinggi dalam menjalankan tugas.

"Kami menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada semua korban. Prajurit TNI AD yang menjadi korban adalah mereka yang memiliki dedikasi yang tinggi. Kami juga berduka atas meninggalnya korban dari masyarakat sipil," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, anak dari salah satu korban warga sipil yang tewas dalam ledakan tersebut menanggapi anggapan bahwa ayahnya merupakan pemulung bahan peledak. Anak korban membantah isu tersebut dan menegaskan bahwa ayahnya bekerja membantu petugas TNI AD.

"Saya ingin menegaskan, bapak saya di sana bukan pemulung sisa bahan peledak seperti yang dipikirkan orang. Bapak saya memang bekerja untuk TNI AD," ungkapnya saat diwawancarai oleh Dedi Mulyadi.

Anak korban tersebut juga menjelaskan bahwa ayahnya sudah lama bekerja untuk TNI AD dan sering bepergian ke berbagai daerah, seperti Manado, Jakarta, Bali, dan Makassar.

"Bapak saya sudah lama bekerja dengan tentara, saya tahu itu sejak saya masih sekolah," tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Dedi Mulyadi yang hadir dalam wawancara tersebut memastikan bahwa kejadian ini merupakan sebuah kecelakaan yang terjadi saat korban sedang bekerja.

"Seperti halnya nelayan yang tenggelam atau sopir yang kecelakaan, ini adalah kecelakaan saat bekerja," jelas Dedi Mulyadi, menambahkan bahwa korban meninggal dunia dalam kondisi sedang menjalankan tugasnya.*

Tags

Terkini