Semeru Masih ‘Awas’: Zona Merah Diperketat, Lahar Dingin Mengintai

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Sabtu, 22 November 2025 | 11:45 WIB
Menyoroti fakta terkini terkait bencana erupsi pada kawasan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. (X.com/@WeatherMonitor)
Menyoroti fakta terkini terkait bencana erupsi pada kawasan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. (X.com/@WeatherMonitor)

 

 

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur kembali menunjukkan aktivitas vulkanik ekstrem.

Statusnya masih bertahan di Level IV (Awas) setelah erupsi besar pada Rabu, 19 November 2025, yang memaksa warga mengungsi ke lokasi aman.


Kepala PVMBG, Priatin Hadi Wijaya menegaskan bahwa pembatasan radius bahaya tetap diberlakukan secara ketat. Masyarakat dilarang keras mendekati zona merah yang telah ditentukan.


“Status masih Level 4, rekomendasi di radius 8 kilometer, dan arah tenggara–selatan 20 kilometer,” ujarnya di Bandung, Jumat, 21 November 2025. Hadi menambahkan, perluasan zona bahaya bisa dilakukan sewaktu-waktu jika kondisi memburuk.


Saat ini PVMBG mengawasi 69 gunung api aktif. Semeru menjadi satu-satunya yang berada di status Awas, sementara Merapi dan Lewotobi Laki-laki berstatus Siaga. Para pengamat gunung bekerja ekstra karena pemantauan di level tinggi harus dilaporkan setiap enam jam.


Selain ancaman erupsi utama, potensi bahaya lain kini mencuat: banjir lahar dingin. Curah hujan tinggi dalam dua hari terakhir bisa menyeret material vulkanik menuruni lereng.


“Erupsi masih terjadi 36–45 kali dalam 12 jam. Material terus menumpuk dan dapat berubah jadi lahar dingin,” jelas Hadi.


PVMBG memperingatkan aliran lahar bisa tiba-tiba meluncur ke sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru. Penambang pasir dan warga dilarang beraktivitas dalam radius 20 kilometer arah tenggara–selatan dan 8 kilometer dari puncak untuk menghindari lontaran batu pijar.


Kondisi kritis ini bermula dari erupsi dahsyat pada 19 November 2025 yang memicu kepanikan warga saat awan panas meluncur deras. Kepala BPBD Lumajang, Isnugroho, mencatat luncuran awan panas mencapai 5,5 kilometer ke arah Besuk Kobokan, dengan kolom abu pekat menjulang ke arah barat laut hingga utara.

Seismograf merekam amplitudo maksimal 40 mm dengan durasi erupsi 16 menit 40 detik.


Hingga kini, aktivitas vulkanik tinggi tersebut menjadi dasar tetapnya status Awas, dan warga kembali diingatkan untuk tidak memasuki zona rawan apa pun risikonya.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X