pendidikan

Pro-Kontra Libur Sekolah saat Ramadhan, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Penjajahan

Minggu, 19 Januari 2025 | 13:52 WIB
Ilustrasi belajar di rumah yang akan diterapkan selama bulan Ramadan (freepik/our-team)


SUARA PEMBARUAN - Pemerintah telah memberikan lampu kuning mengenai pembelajaran selama bulan Ramadan.Baca Juga: Ciptakan Hidup Sehat, Dinkes Kaur Akan Tertibkan Kawasan Tanpa Rokok

Sebelumnya, ramai dibicarakan tentang libur Ramadan yang penuh pro-kontra.

Tapi faktanya, pemerintah mengungkap fakta dan hal lain.

Kebijakan ini bertujuan untuk menyesuaikan jadwal pembelajaran dengan semangat bulan suci tanpa mengurangi proses pendidikan bagi siswa.Baca Juga: Cegah Tersandung Hukum, Kades di Kabupaten Kaur Diminta Gunakan Dana Desa Sesuai Juknis

Penyesuaian Jadwal Sekolah Selama Ramadan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak dianggap sebagai libur total.

"Jangan pakai kata libur. Tidak ada pernyataan libur Ramadan, (adanya) pembelajaran di bulan Ramadan. Kata kuncinya bukan libur Ramadan tapi pembelajaran di bulan Ramadan," ujar Mu'ti di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat 17 Januari 2025.

Saat ini, mekanisme pembelajaran selama Ramadan tengah dirancang oleh pemerintah, melibatkan sejumlah kementerian terkait, seperti Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Agama, serta Kementerian Dalam Negeri.Baca Juga: Payuang Panji Suku Koto Siap Berkontribusi Bangun Bengkulu

"Sudah kita bahas lintas kementerian. Sudah ada kesepakatan bersama," tambah Mu'ti.

Sejarah Belajar di Rumah Saat Ramadan

Kebijakan belajar di rumah selama Ramadan sebenarnya telah ada sejak era kolonial Hindia Belanda pada 1930.

Pemerintah kolonial saat itu memutuskan untuk meliburkan sekolah selama sebulan penuh di bulan Ramadan, dengan tujuan mendekati hati umat Islam sekaligus meredam potensi perlawanan terhadap kolonialisme.

Tradisi libur Ramadan ini bahkan terlihat dalam peristiwa Perang Jawa. Pangeran Diponegoro, misalnya, mengusulkan kepada Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Marcus de Kock untuk menghentikan sementara diskusi perang selama Ramadan, sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci.Baca Juga: Pernah Dilatih Patrick Kluivert di AZ Alkmaar, Ini Testimoni Thom Haye soal Gaya Kepelatihannya!

Namun, sikap baik Belanda ini memiliki motif politis. Peter Carey, seorang sejarawan Inggris, menyebutkan bahwa pendekatan tersebut dimaksudkan untuk mempengaruhi Diponegoro agar menyerah tanpa syarat.

Halaman:

Tags

Terkini

UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional

Selasa, 2 Juni 2026 | 19:42 WIB