Surabaya, SUARA PEMBARUAN — Jutaan orang tua Indonesia setiap hari membuka grup WhatsApp wali kelas dengan keyakinan penuh bahwa mereka sudah cukup terlibat dalam pendidikan anak. Mereka mengira materi pembelajaran dan informasi sekolah yang tersebar lewat WhatsApp sudah memadai. Namun, keyakinan itu keliru besar, dan bukti ilmiah internasional membuktikannya.
Peringatan tegas disampaikan Prof. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D., Pakar SEVIMA sekaligus Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, dalam sesi talkshow Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah untuk Anak Berprestasi di EduFun East, Tunjungan Plaza 3, Surabaya (28/4/2026). Acara ini menjadi bagian dari rangkaian pameran pendidikan yang menghadirkan ribuan sekolah dan orang tua murid dalam satu forum langka di luar momen rapotan.
"WhatsApp itu tidak dirancang untuk pendidikan. Kita yang memaksanya jadi alat komunikasi sekolah-orang tua karena tidak ada pilihan lain," ujar Profesor Imas, Selasa (28/4/2026).
Menurut Prof. Imas yang juga ibu dari tiga anak, persoalannya bukan pada niat baik orang tua atau sekolah, melainkan pada sistem komunikasi yang tak pernah didesain untuk mendeteksi masalah secara dini. Di tengah momen Ujian Nasional berbasis Tes Potensi Akademik (TPA) dan seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui SNBP, keterlambatan informasi tentang perkembangan anak dapat berdampak fatal terhadap kesiapan akademik mereka.
Profesor Imas memaparkan penelitian Profesor Peter Bergman yang dipublikasikan di Journal of Political Economy tahun 2021. Penelitian itu membagi orang tua menjadi dua kelompok: kelompok pertama mendapat laporan perkembangan anak dari guru secara rutin setiap dua minggu, sementara kelompok kedua tidak mendapat informasi apa pun. Hasilnya mencengangkan: anak dari kelompok pertama mengalami kenaikan kompetensi akademik signifikan, misalnya dari peringkat 30 di kelas bisa naik ke peringkat 10 atau 15. Kelompok kedua tidak menunjukkan perbaikan apa pun, baik dari sisi akademik, karakter, maupun keterampilan.
Penelitian lanjutan Bergman dan Chan (2021) di West Virginia memperkuat temuan ini. Sekolah yang mengirimkan pesan kepada orang tua setiap kali anak tidak masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, atau mendapat nilai rendah mencatat penurunan angka kegagalan mata pelajaran sebesar 27 persen, sementara tingkat kehadiran siswa naik 12 persen. Hasil serupa juga ditemukan di Chile oleh tim Berlinski pada 2024, di mana nilai matematika naik dan kehadiran membaik, membuktikan pola ini berlaku pula di negara berkembang seperti Indonesia.
"Komunikasi guru-orang tua yang rutin dan akurat secara langsung menggerakkan karakter, kompetensi, dan keterampilan anak," ujar Profesor Imas. Tiga penelitian dari tiga negara berbeda dengan ribuan subjek menunjukkan konsistensi yang tak bisa diabaikan.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi efektif tidak bisa berlangsung di WhatsApp karena lima kelemahan utama. Informasi di grup WhatsApp bersifat siaran umum untuk semua orang tua, bukan laporan spesifik per anak. Pesan penting dari guru kerap tenggelam di antara stiker, ucapan ulang tahun, dan obrolan tak relevan. Informasi sensitif seperti penurunan nilai atau pelanggaran disiplin tidak seharusnya diekspos di forum terbuka yang bisa diakses puluhan keluarga. WhatsApp juga tidak terhubung dengan data akademik sekolah, sehingga orang tua tidak bisa melihat nilai harian, rekap kehadiran, maupun status tugas secara langsung. Terakhir, ratusan notifikasi setiap hari justru menjadi beban kognitif bagi orang tua bekerja, bukan sumber informasi berguna.
"Orang tua merasa sudah terhubung dengan sekolah karena ada di grup. Padahal yang mereka dapat hanya kebisingan, bukan informasi yang benar-benar dibutuhkan tentang kondisi spesifik anak mereka," tegasnya.
Prof. Imas juga menyoroti beban guru. Tidak realistis mengharapkan seorang guru mengirim pesan personal ke puluhan orang tua per anak setiap hari di tengah tumpukan tugas administratif dan mengajar. Sistem komunikasi pendidikan yang baik harus bekerja secara otomatis, bukan mengandalkan tenaga manual guru yang sudah terbatas.
Prof. Imas menetapkan empat informasi minimum yang berhak diterima orang tua secara rutin dari sekolah: kehadiran anak secara real-time, perkembangan nilai akademik per mata pelajaran, jadwal dan kehadiran dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta identitas dan kontak pendamping saat anak mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ia mendorong penggunaan platform terintegrasi. Berbagai aplikasi telah tersedia, baik yang berfokus pada pembelajaran sinkronus atau tatap muka online seperti Zoom, maupun sistem akademik terintegrasi. Salah satu yang diunggulkannya adalah SEVIMA PENA Parent Connect. Keunggulan sistem ini terletak pada kemampuannya mengalirkan data kehadiran, nilai akademik, dan aktivitas sekolah secara langsung dalam notifikasi orang tua tanpa menambah beban operasional guru. Dengan platform ini, orang tua dapat mengetahui apakah anak sudah masuk kelas, nilai terbaru yang diinput guru, hingga catatan kehadiran ekstrakurikuler secara real-time. Semua tersaji dalam satu pintu informasi, tanpa perlu menunggu rapotan atau menyaring kebisingan grup WhatsApp.
Hal yang membuat SEVIMA PENA Parent Connect lebih unggul adalah integrasi otomatisnya dengan sistem akademik sekolah. Setiap kali guru mengisi kehadiran atau memasukkan nilai, data tersebut langsung terkirim ke orang tua yang bersangkutan. Tidak ada jeda, tidak ada informasi yang tercecer. Orang tua pun bisa memantau progres anak setiap hari, bukan setiap semester. Ini menjawab kebutuhan Prof. Imas akan komunikasi rutin dan akurat yang terbukti ilmiah meningkatkan prestasi anak.
Bagi orang tua dan pihak sekolah yang ingin memantau perilaku dan perkembangan anak, Prof. Imas menyarankan agar tidak menunggu akhir semester untuk mulai mengevaluasi kualitas komunikasi antara sekolah dan rumah. "Mulailah dengan satu pertanyaan sederhana kepada sekolah anak Bapak Ibu: seberapa cepat saya bisa tahu kalau anak saya tidak masuk kelas hari ini? Jawabannya akan langsung menunjukkan di mana mutu sekolah tersebut," pungkasnya.