pendidikan

Berada di Kawasan Pecinan, STAI Al Hidayat Jadi Kampus Multikultural

Sabtu, 27 Januari 2024 | 10:11 WIB

Rembang,  suarapembaruan.news – Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana menyebut Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Hidayat Lasem Rembang, sebagai kampus multikultural.

"Pondok Pesantren Kauman Lasem dan STAI Al Hidayat Lasem ini menarik dan unik, karena berada di tengah-tengah kawasan yang selama ini kita kenal dengan Pecinan. Kehidupan mahasiswa dan santri ini bisa berbaur dengan masyarakat, baik etnis Tionghoa maupun Jawa. Maka tentunya sangat tepat bahwa perguruan tinggi ini diluncurkan sebagai kampus multikultural," kata Nana, usai mendamping Wapres Ma'ruf Amin, meresmikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Hidayat Lasem Rembang, Sabtu (27/1).

Nana mengatakan, meski ada perbedaan etnis dan keyakinan di lingkungan tersebut, mereka tetap bisa hidup berdampingan. Toleransi diantara penduduk Tionghoa dan masyarakat pesantren terbangun dengan baik.

Nana berharap, STAI Al Hidayat dapat menjadi perguruan tinggi rujukan dalam pengembangan kajian keislaman dan keguruan berwawasan multikultural.

Dalam kesempatan itu, Nana mengatakan, Pemprov Jateng memberi perhatian besar pada pendidikan di pondok pesantren. Melalui Perda Nomor 10 tahun 2023 yang mengatur tentang fasilitasi dan sinergitas pengembangan pondok pesantren, pemerintah daerah berperan serta dalam pengembangan pesantren.

"Perda ini bertujuan memberikan dukungan kepada pondok pesantren untuk meningkatkan penyelenggaraan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, sesuai amanah perundang-undangan," ungkapnya.

Keberadaan perda, sambungnya, juga untuk membangun sinergitas antara pemerintah dengan pondok pesantren dalam mewujudkan masyarakat yang berilmu, beriman, berdaya saing, dan mendukung pembangunan.

Sementara itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan, Kawasan Lasem  Kabupaten Rembang memang tempat terjadinya akulturasi, perbauran antara masyarakat santri dengan masyarakat Tionghoa. Bahkan, daerah Lasem sudah menjadi kawasan yang toleran sejak abad 16 - 17.

"Sebenarnya ini contoh, dan ini barangkali yang menginspirasi, sehingga Indonesia itu sekarang dikenal negeri yang paling toleran di dunia," ungkapnya.

Ma’ruf menceritakan, belum lama ini pihaknya menerima tamu dari organisasi alim ulama di Timur Tengah. Mereka menyampaikan, ingin belajar mengenai toleransi dari Indonesia. Sebab, Indonesia adalah negeri paling toleran, yang bisa menjadi contoh bagi kehidupan global. (SPnews/STH)

 

Tags

Terkini