pendidikan

Penghancur Masker Medis Berbasis Mikroba Karya Mahasiswa UGM

Sabtu, 25 September 2021 | 14:24 WIB

 

MASKER medis bekas, menjadi problem tersendiri, khususnya cara membuang dan menghancurkannya.

-
Tempat sampah limbah masker medis yang diolah menjadi bahan organik ciptaan mahasiswa UGM. (Dok UGM)

Karena itulah, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Muhammad Ardillah Rusydan mahasiswa Fakultas Biologi UGM, bersama Gizela Aulia Agustin (Biologi), Isthafaina Dea Fairuz (Gizi Kesehatan), dan Asyifa Rizki Daffa, mahasiswa Teknik Nuklir angkatan 2020, mencoba memberi solusinya yakni dengan mengembangkan tempat sampah ramah lingkungan yang dapat mengolah limbah masker medis menjadi bahan organik.

Dibimbing Dr Endah Retnaningrum, dan lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) UGM, tempat sampah ini dibuat dengan menambahkan agen biodegradasi berupa mikroba Pseudomonas aeruginosa.

Seperti dipaparkan Ardillah Rusydan, proses pengolahan sampah masker medis ini, menggunakan cara yang paling ramah lingkungan karena tidak meninggalkan bahan yang sulit terurai.

Limbah masker akan diurai oleh mikroba dalam waktu sekitar 10-14 hari. Meski proses degradasi memakan waktu yang agak lama, tetapi dengan pengembangan alat melalui penambahan sejumlah proses, proses degradasi bisa dipercepat.

"Proses pemanasan dan penambahan nutrient serta penambahan jenis mikroba akan dapat mempercepat proses degradasi dari sampah masker medis,"katanya.

Tempat sampah dirancang dengan ukuran 29x14x100 cm  berkapasitas 28,5 L dan dilengkapi dengan shredder yang berada pada bagian atas yang berfungsi untuk mencacah masker medis menjadi cacahan kecil.

Kemudian, dibagian bawah shredder,  terdapat sensor ultrasonik yang telah terhubung dengan mikrokontroler dan sprayer. Dengan begitu saat proses pencacahan, masker jatuh melewati sensor tersebut maka secara otomatis sprayer yang telah terisi dengan larutan bakteri akan menyemprotkan larutan tersebut ke arah cacahan masker medis.

Pada bagian dasar tempat sampah, telah didesain sedemikian rupa agar cacahan masker yang telah terdegradasi oleh mikroba akan masuk ke tabung penampungan.

Ditambahkan Asyifa, ide awal pembuatan tempat sampah tersebut berawal dari keprihatinan mereka akan banyaknya limbah masker medis.

Ke-9 di Asia

Memang benar, berdasar penelitian yang dilakukan Sangkham (2020), penggunaan masker medis meningkat signifikan, yaitu 2.228.170.832 buah per 31 Juli 2020.

Dari jumlah tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke 9 sebagai negara penyumbang limbah masker terbanyak di Asia dan menyumbang  sebesar 159.214.791 buah sampah masker. Sementara peningkatan penggunaan masker medis dapat menyebabkan dampak buruk, salah satunya terbentuk mikroplastik yang mencemari lingkungan.

Limbah masker merupakan limbah yang berbahaya dan masuk pada limbah infeksius, atau limbah yang bisa menjadi sumber penyebaran penyakit.

Selain itu masker sekali pakai, mengandung bahan utama yaitu polipropilen (plastik), serta polimer lain seperti polistiren, polikarbonat, polietilen atau poliester yang sulit diuraikan secara alami.

Lebih-lebih, banyak masyarakat yang teledor da membuang limbah masker tanpa diolah.

Dalam catatan Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas, timbulan limbah medis termasuk masker dan Alat Pelindung Diri (APD) di Indonesia, mencapai 1.662 ,75 ton pada rentang bulan Maret sampai September 2020.

Masyarakat acuh pada Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19).

Asyifa menggambarkan, kesadaran masyarakat untuk membuang masker medis skala rumah tangga, belum sesuai aturan, akan jadi masalah di kemudian hari.

"Sehingga untuk bisa mewujudkan lingkungan yang bersih dari sampah masker, alat ini diciptakan, namun, akses masih terbatas. Alat ini hanya dapat mengolah sepersekian dari banyaknya masker medis yang terbuang di lingkungan ataupun masker medis yang telah digunakan," tuturnya.

Karenanya diperlukan sebuah terobosan serta inovasi alat pengolahan sampah medis yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas, dengan pengelolaan yang tidak menciptakan polusi baru.

Oleh sebab itu Asyifa dan tim memanfaatkan miikroorganisme dengan kemampuan mendegradasi bahan anorganik dan mengubahnya menjadi bahan organik.

Mahasiswa UGM pencipta alat pemusnah limbah masker medis ini berharap, alat bisa dikembangkan dan bisa menjadi solusi alternatif dalam mengurai persoalan limbah masker medis di masyarakat. [SPnews/Fuska Sani Evani]

 

 

Tags

Terkini