Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Para pelaku ekonomi kreatif dan digital di Bali kembali menggelar pertemuan lanjutan untuk mematangkan pembentukan Bali Creative Board (BCB), sebuah organisasi payung yang dirancang untuk menyatukan berbagai komunitas dan asosiasi ekraf di Pulau Dewata. Pertemuan kedua ini berlangsung pada 16 April 2026 di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali, dengan pembahasan yang sudah masuk tahap perancangan struktur organisasi.
Jika sebelumnya pertemuan awal lebih bersifat pengenalan dan penjajakan ide, kali ini diskusi berkembang ke arah teknis, termasuk penentuan model organisasi. Sebanyak 33 perwakilan organisasi dari beragam subsektor hadir, mulai dari aplikasi, gim, desain, arsitektur, kriya, kuliner, film, musik, hingga fotografi.
Dalam forum tersebut, disepakati bahwa BCB akan dibentuk dalam format federasi. Artinya, organisasi ini akan menjadi wadah bagi berbagai komunitas dan asosiasi, bukan untuk individu. Konsep ini diharapkan mampu memperkuat konsolidasi lintas sektor dalam ekosistem ekonomi kreatif dan digital Bali.
Dalam waktu dekat, direncanakan akan digelar pertemuan final yang menjadi momentum peresmian BCB, termasuk penetapan ketua dan struktur kepengurusan awal. Proses pendataan organisasi juga terus dilakukan untuk menjangkau pelaku ekraf di seluruh kabupaten/kota di Bali agar dapat bergabung.
Inisiatif pembentukan BCB digagas oleh Made Artana yang juga dikenal sebagai penggerak ekonomi kreatif serta bagian dari Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Ia menilai Bali memiliki potensi besar di sektor kreatif dan digital yang perlu disatukan dalam satu wadah agar lebih kuat dan terarah.
Menurutnya, kekayaan budaya, tradisi, serta talenta kreatif yang dimiliki Bali harus dioptimalkan melalui kolaborasi yang solid agar mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.
Ia juga membandingkan peran BCB dengan Bali Tourism Board (BTB) yang selama ini menjadi payung bagi industri pariwisata. Kehadiran BCB diharapkan mampu memainkan peran serupa untuk sektor ekonomi kreatif dan digital.
Proses pembentukan ini turut difasilitasi oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, yang menyatakan dukungannya agar organisasi tersebut segera terbentuk dan bisa langsung berkontribusi.
Ke depan, BCB diharapkan tidak hanya menjadi ruang komunikasi antar pelaku, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah serta pusat kolaborasi berbagai unsur, mulai dari komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, hingga pemerintah.
Dengan hadirnya BCB, Bali diproyeksikan memiliki fondasi yang lebih kokoh dalam mengembangkan ekonomi kreatif dan digital sebagai salah satu pilar utama pembangunan masa depan, sekaligus memperkuat nilai tambah dari kekayaan budaya lokal.