pariwisata

Menelusuri Sejarah Jembrana di Puri Agung Negara: Warisan Kerajaan dalam Balutan Arsitektur Kolonial

Rabu, 16 Juli 2025 | 12:44 WIB
Puri Agung Negara di Jembrana, Bali. (Dok. Kemenparekraf RI)


Jembrana, SUARA PEMBARUAN – Kabupaten Jembrana di Bali Barat tak hanya menawarkan panorama alam yang memesona, tetapi juga menyimpan warisan sejarah yang kaya dan layak dijelajahi wisatawan.

Salah satu lokasi yang menyajikan pengalaman mendalam tentang masa lalu adalah Puri Agung Negara, bangunan bersejarah yang berada di Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Jembrana.

Mengunjungi Puri Agung Negara memberi kesempatan bagi wisatawan untuk menelusuri jejak berdirinya Kota Negara, lengkap dengan sentuhan arsitektur kolonial Belanda yang masih terjaga keasliannya hingga kini.

Bangunan ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan simbol kejayaan masa lampau yang kini dapat diakses publik.

Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Sistem donasi sukarela diterapkan untuk siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak, yang ingin menyusuri kawasan bersejarah ini.

Nilai sejarah Puri Agung Negara semakin tinggi karena dulunya merupakan tempat tinggal Anak Agung Bagus Sutedja, Gubernur pertama Bali. Dari tempat inilah berbagai keputusan penting di awal era pemerintahan modern Bali lahir.

Temuan arkeologi menunjukkan bahwa kawasan Jembrana telah dihuni sejak 6.000 tahun silam. Nama "Jembrana" sendiri diyakini berasal dari istilah “Jimbar Wana”, yang berarti hutan luas—tempat mitologis sang naga raja yang menjadi bagian dari cerita rakyat setempat.

Cerita-cerita lisan dan mitos yang diwariskan secara turun-temurun ini telah membentuk tradisi dan struktur kerajaan, mulai dari sistem kekuasaan, simbol pusaka, hingga pendirian keraton sebagai pusat pemerintahan adat.

Puri pertama yang didirikan di wilayah ini adalah Puri Gede Jembrana, dibangun pada awal abad ke-17 oleh I Gusti Made Yasa. Penguasa pertamanya adalah I Gusti Ngurah Jembrana, yang memimpin masyarakat multikultural, terdiri dari komunitas Bali Hindu dan Islam.

Sebagai lambang kekuasaan dan spiritualitas, sang raja memiliki sejumlah benda pusaka seperti tombak, tulup, dan keris yang dikenal dengan nama "Ki Tatas".

Pada awal abad ke-19, pusat pemerintahan berpindah ke lokasi baru bernama Puri Agung Negeri, yang kini dikenal sebagai Puri Agung Negara. Sejak saat itu, tempat ini menjadi pusat pemerintahan raja-raja Jembrana dalam dua masa kekuasaan berbeda.*

Tags

Terkini

Ke Candi Prambanan, Rekreasi dan Memahami Sejarah

Kamis, 30 April 2026 | 19:32 WIB