Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Ini kisah heroisme dari seorang politisi muda Tanah Air.
Firnando Ganinduto, politisi muda Partai Golongan Karya (Golkar), mengaku pernah menolak pekerjaan di Amerika Serikat dengan gaji puluhan juta rupiah.
Penolakan tersebut dilakukan karena dirinya ingin kembali ke Indonesia dan berkarya untuk bangsa dan negara.
Anggota DPR RI terpilih periode 2024-2029 dari daerah Jawa Tengah 1 tersebut menceritakan saat kuliah New York, Amerika Serikat, dirinya mengikuti program magang di salah satu perusahaan di Amerika Serikat.
Baca Juga: TPP ASN Pemprov Bengkulu Akan Disesuaikan Standar Hidup Jakarta
"Jadi sebelum lulus kuliah itu, ada program internship (magang). Perusahaan tempat kita magang ditentukan oleh universitas. Waktu itu (tempat magang) namanya Matrik Capital, kalau di Indonesia itu perusahaan reksadana," ujarnya dalam Program JPP Talks Edisi "Janji Anggota DPR" yang digelar oleh Promedia TV.
Pria yang akrab dipanggil Nando itu melanjutkan, selama enam bulan program magang tersebut, dirinya mengaku bekerja keras untuk bisa penilaian terbaik dari perusahaan.
"Enam bulan saya banting tulang kerja, karena saya ingin punya nilai bagus disitu, alhamdulillah saya menjadi salah satu yang mendapatkan nilai yang terbaik," ceritanya.
Baca Juga: Rela Bersusah-susah Demi ODGJ, Mbak Ita: Pekerja Sosial Masyarakat itu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa!
Sebagai salah satu peserta magang dengan penilaian terbaik, Firnando mengaku langsung ditawari kontrak kerja dengan gaji yang cukup besar.
"Kamu gak usah kembali ke Indonesia. Kamu kerja aja. Nanti visanya kami yang urusin," tuturnya menirukan manager perusahaan yang menawarinya pekerjaan.
Meski demikian, Firnando mengungkapkan dirinya memutuskan tidak menerima pekerjaan tersebut dan memutuskan kembali ke Indonesia.
Baca Juga: Polda DIY Kampanyekan Pilkada Damai dengan bagi Bansos
"Pada saat itu kalau saya ambil tawaran itu dengan gaji sekitar Rp50 juta per bulan dan saya kerja di perusahaan itu, mungkin saya lupa dengan negara saya. Saya akan lupa kalau tahun 1997 saya akan masuk politik. Saya akan lupa kalau saya ingin membangun negara saya," ungkapnya.
"Jadi apa yang saya lakukan, saya tolak tawaran itu. Saya sampaikan ke mereka, saya disini hanya ingin kuliah dan menuntut ilmu. Setelah lulus, saya akan kembali ke Indonesia dan membangun negara saya," lanjutnya.