nasional

JK: Kreativitas, Keberanian Mengambil Risiko Jadi Kunci Hadapi Tantangan Ekonomi

Kamis, 4 Juni 2026 | 18:43 WIB
Jusuf Kalla (JK), memberi keterangan usai menjadi pembicara dalam Amartha Asia Grassroots Forum yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Ist)

JAKARTA - SUARA PEMBARUAN - Kreativitas, keberanian mengambil risiko, serta kepercayaan (trust) merupakan modal utama bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang saat ini sedang mengalami perlambatan.

Hal ini ditegaskan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), saat menjadi pembicara dalam Amartha Asia Grassroots Forum yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Dalam paparannya, JK mengatakan kondisi ekonomi saat ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara di dunia. Menurutnya, perubahan besar dalam sistem ekonomi global selalu terjadi dalam rentang waktu tertentu, termasuk pergeseran dari era globalisasi menuju meningkatnya peran negara dalam aktivitas ekonomi.

"Sekarang ekonomi di Indonesia dan di dunia ini menjadi ekonomi yang lebih banyak melibatkan peran negara. Orang menyarankan bahwa peran pemerintah lebih besar dibanding sebelumnya," ujar JK.

Ia mencontohkan kebijakan proteksi perdagangan yang diterapkan sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat yang menerapkan tarif impor tinggi terhadap sejumlah produk. Di Indonesia sendiri, pemerintah juga mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan komoditas strategis seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Meski demikian, JK menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Menurutnya, peran sektor swasta dan masyarakat tetap menjadi faktor utama dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong produktivitas.

"Pemerintah hanya memberikan pekerjaan kepada sekitar empat juta orang. Yang memberikan lapangan kerja kepada hampir seluruh masyarakat justru para pengusaha yang membuat kegiatan ekonomi dan investasi," katanya.

JK menilai pemerintah dan pelaku usaha harus berjalan beriringan. Jika hanya mengandalkan pemerintah, negara akan cenderung menjadi terlalu sosialis. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan pasar, ekonomi akan bergerak ke arah liberalisme yang berlebihan.

Dalam kesempatan tersebut, JK juga mendorong generasi muda untuk tidak takut memulai usaha meskipun memiliki keterbatasan modal. Menurutnya, modal utama seorang wirausahawan bukanlah uang, melainkan ide dan kreativitas.

"Kalau ingin berusaha, modal yang pertama adalah inovasi, kreativitas, dan ide. Itu yang nomor satu. Yang kedua baru modal," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah untuk membantu pelaku usaha pemula dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Selain kreativitas dan keberanian, JK menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pengembangan usaha.
Menurutnya, kemajuan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang besar bagi generasi muda untuk menciptakan berbagai inovasi baru.
"Jangan hanya tergantung kepada sumber daya alam. Bagaimana kita membangun kemampuan teknologi sendiri. Dengan kemauan dan keberanian, itu bisa dilakukan," katanya.

JK juga mencontohkan sejumlah pengusaha nasional yang berhasil membangun usaha besar berawal dari kondisi sederhana. Menurutnya, keberhasilan mereka lahir dari ide, keberanian, dan kerja keras, bukan semata-mata karena modal besar.

Menjelang akhir pidatonya, JK menegaskan bahwa kepercayaan merupakan aset terpenting dalam dunia usaha. Tanpa kepercayaan, seorang pengusaha akan sulit berkembang dan mendapatkan dukungan dari masyarakat maupun lembaga keuangan.

"Seorang pengusaha modalnya adalah trust atau kepercayaan. Begitu Anda tidak punya kepercayaan, orang tidak akan percaya kepada Anda," tegasnya.

Halaman:

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB