Naili juga mengingatkan pentingnya kemampuan self healing bagi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh tekanan sosial maupun cyber bullying yang marak terjadi di dunia maya.
Diskusi berlangsung dinamis. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan mengenai cara memaknai dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus digitalisasi, polarisasi opini, hingga perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat.
Selain menjadi ruang dialog lintas iman, kegiatan tersebut juga menjadi panggung ekspresi budaya sebagai bentuk kecintaan terhadap Pancasila dan keberagaman Indonesia.
Berbagai pertunjukan seni turut memeriahkan acara, mulai dari Tari Pendet, penampilan grup band anak muda GBI Ngembak, Tari Sufi, hingga sajian lagu-lagu yang dibawakan Steven bersama Bento Band OMK Banyumanik.
Kegiatan ini turut dihadiri Camat Banyumanik Didik Agung Mulyana, Ketua Komisi HAK Kevikepan Semarang Rm. Suhanto Pr, Ketua Dewan Pastoral Paroki Harian St. Maria Fatima Banyumanik Rm. Triwahyono Jati Nugroho, Wakil Ketua DPPH Prof. Sriyana, Ketua Pelita Semarang Setiawan Budi, Lurah Padangsari Sri Agustin Wulandari, Lurah Pedalangan Agustinus Kristiawan, serta sejumlah tokoh agama dan masyarakat.
Di tengah meningkatnya tantangan intoleransi dan penyebaran narasi kebencian di ruang digital, Srawung Orang Muda Lintas Agama menjadi bukti bahwa dialog, persahabatan, dan kolaborasi masih menjadi kekuatan utama untuk menjaga Indonesia tetap utuh dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.*