Srawung Lintas Iman, 150 Orang Muda Gaungkan Pancasila di Tengah Gempuran Radikalisme Digital

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 4 Juni 2026 | 06:33 WIB
150 pemuda lintas agama berkumpul di Banyumanik, memperkuat toleransi dan menggaungkan nilai Pancasila di era digital.
150 pemuda lintas agama berkumpul di Banyumanik, memperkuat toleransi dan menggaungkan nilai Pancasila di era digital.

 

Semarang, SUARA PEMBARUAN  – Semangat kebersamaan dan toleransi mewarnai peringatan Hari Lahir Pancasila di Kota Semarang. Sebanyak 150 orang muda dari berbagai agama dan kepercayaan berkumpul dalam kegiatan Srawung Orang Muda Lintas Agama yang digelar Tim Pelayanan Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Gereja St. Maria Fatima Banyumanik bekerja sama dengan DPD Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Jawa Tengah, Senin (1/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Darmo Yuwono, Gereja St. Maria Fatima Banyumanik tersebut menghadirkan peserta dari kalangan Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, hingga penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang tergabung dalam Himakertayasa.

Sejak awal hingga akhir acara, suasana penuh keakraban dan kekeluargaan begitu terasa. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk talkshow bertema “Update Nilai-Nilai Pancasila Era Kini” yang menjadi salah satu agenda utama.

Ketua DPD IKAL Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono KS, MP, yang hadir sebagai narasumber menegaskan pentingnya memperluas ruang perjumpaan antarumat beragama, khususnya bagi generasi muda.

Menurutnya, semakin sering masyarakat dari latar belakang berbeda berinteraksi dan berbaur, semakin kuat pula sikap saling menghargai dan menghormati yang tumbuh di tengah kehidupan berbangsa.

“Ruang pergaulan lintas agama seperti ini perlu dibudayakan mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan, kota, provinsi hingga nasional. Dari situlah lahir sikap toleransi dan gotong royong yang merupakan bagian dari nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.

Sri Puryono menegaskan bahwa bangsa Indonesia patut bersyukur memiliki Pancasila sebagai fondasi yang mampu mempersatukan keberagaman.

“Kita harus bangga karena para pendiri bangsa mewariskan Pancasila sebagai dasar negara yang mampu mempersatukan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Dalam era digital yang semakin kompleks, Sri Puryono mengajak generasi muda tidak hanya memahami Pancasila secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikannya melalui ruang digital.

Ia mendorong anak muda memproduksi berbagai konten kreatif yang mengandung pesan persatuan, toleransi, gotong royong, dan cinta tanah air agar mampu menjadi pengaruh positif bagi generasi sebaya, khususnya Gen Z.

Senada dengan itu, narasumber lainnya, Naili Ni’matul Illyun, M.A., menyoroti maraknya konten bermuatan kebencian, radikalisme, dan ekstremisme yang beredar di berbagai platform digital.

Menurutnya, ruang digital saat ini menjadi arena perebutan pengaruh yang harus diisi dengan narasi positif dan edukatif.

“Konten-konten yang memecah belah persatuan bangsa harus dilawan dengan konten-konten positif yang menumbuhkan semangat kebangsaan dan kemanusiaan,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X