nasional

China Larang Lembaga Pemerintah dan Bank Bank Besar Penggunaan OpenClaw

Senin, 6 April 2026 | 10:24 WIB
Prof. Ridi Ferdiana, Profesor muda Fakultas Tehnik UGM

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Tren pengguna OpenClaw terus meningkat pada awal 2026. Aplikasi personal kecerdasan buatan agentik berbasis open source yang dirilis pada November tahun lalu ini mencatat lebih dari 2 juta kunjungan hanya dalam satu pekan. Seperti halnya produk artificial intelligence lainnya yang memiliki potensi sekaligus risiko, OpenClaw memerlukan perhatian khusus dari para penggunanya. Pemerintah China bahkan dilaporkan melarang lembaga pemerintah, badan usaha milik negara, dan bank-bank besar memasang OpenClaw di perangkat kantor karena dinilai berisiko, mulai dari celah serangan siber hingga potensi kebocoran data.

Guru Besar Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, menjelaskan bahwa OpenClaw merupakan Agentic AI, yaitu bentuk lanjutan kecerdasan buatan yang mampu menyusun strategi perencanaan, mengambil aksi kompleks, dan menyelesaikan tugas secara mandiri. Dalam proses kerjanya, OpenClaw memanfaatkan data internal pengguna serta data eksternal dari internet untuk menyelesaikan berbagai perintah. Ia menambahkan bahwa sifat open source pada OpenClaw membuat sumber dan proses pemrogramannya terbuka untuk publik, berbeda dengan sistem closed source yang tertutup. Dari keterbukaan ini, menurutnya, muncul celah keamanan yang berpotensi dimanfaatkan untuk serangan siber maupun kebocoran data, baik pada tingkat individu maupun perusahaan.

Ia juga menegaskan bahwa sifat open source bukan hanya berarti gratis, tetapi juga memungkinkan siapa saja melihat dan mempelajari cara kerja sistem tersebut, sehingga banyak pengembang terdorong membuat sistem serupa. Namun, di sisi lain, masyarakat kerap tidak memahami informasi yang terdapat dalam sistem konfigurasi dan sering mengabaikan anjuran untuk memperbarui perangkat. Pengguna yang awam juga cenderung mengabaikan pengaturan perizinan dan langsung menyetujuinya tanpa memahami konsekuensinya. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko kebocoran data, terutama pada penggunaan Agentic AI berbasis sumber terbuka seperti OpenClaw.

Untuk meminimalkan ancaman tersebut, pengguna perlu melakukan berbagai langkah pencegahan. Ridi menyarankan agar pengguna terlebih dahulu memahami kebutuhan penggunaan OpenClaw secara tepat. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar layanan yang ditawarkan sebenarnya juga tersedia melalui penyedia pihak ketiga berbasis platform dan cloud, yang umumnya memiliki jaminan keamanan data lebih baik.

Selain itu, penting bagi pengguna untuk memastikan sistem keamanan, perangkat, dan server yang digunakan berada dalam kondisi aman. Setelah itu, pengguna perlu lebih teliti dalam membaca dan memahami setiap langkah perizinan serta konfigurasi saat menggunakan aplikasi baru. Pemantauan terhadap potensi kebocoran data juga perlu dilakukan secara berkala, setidaknya setiap dua bulan, mengingat sistem otomasi OpenClaw berpotensi menjalankan skenario yang tidak selalu sesuai dengan kehendak pengguna, baik individu maupun perusahaan.

Ia menekankan bahwa pembatasan akses terhadap data privat harus selalu dilakukan. Menurutnya, kunci utama terletak pada upaya ekstra dari pengguna, seperti lebih teliti membaca, rutin memperbarui sistem, dan aktif memantau keamanan. Ia mengingatkan bahwa celah keamanan dapat berdampak pada siapa saja, baik individu maupun organisasi, dengan perbedaan utama terletak pada nilai data yang berpotensi bocor.

Tags

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB