Guru Besar FT UGM Soroti Lemahnya Ketahanan Energi Nasional

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Sabtu, 4 April 2026 | 13:13 WIB
green fuel. Dok Ist
green fuel. Dok Ist

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik global semakin menekan ketahanan energi Indonesia. Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi pintu utama distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Penutupan atau pembatasan aktivitas di Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap rantai pasok minyak dunia. Sekitar 20–25 persen kebutuhan minyak tanah Indonesia masih bergantung pada impor dari Timur Tengah. Ketika jalur ini terganggu, distribusi minyak menjadi terhambat, biaya logistik meningkat, dan harga energi global ikut melonjak. Kondisi ini diperparah oleh potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada semester kedua 2026.

Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Deendarlianto, S.T., menyoroti lemahnya ketahanan energi nasional. Ia menyebutkan bahwa Indonesia hanya memiliki cadangan energi yang mampu bertahan selama 20 hingga 22 hari tanpa pasokan baru. Sementara itu, kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, namun produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari.

“Ketergantungan terhadap impor ini sangat berisiko. Jika selama 22 hari tidak ada pasokan masuk akibat gangguan seperti di Selat Hormuz, dampaknya akan sangat besar terhadap sektor industri, transportasi, kelistrikan, bahkan bisa memicu gejolak sosial,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah mendorong penggunaan energi terbarukan, salah satunya melalui kebijakan B50, yaitu pencampuran biodiesel ke dalam solar untuk mengurangi ketergantungan impor. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

Selain itu, Deendarlianto juga menilai perlunya pengembangan alternatif energi lain seperti bioetanol dari bahan hayati seperti sorgum dan ketela sebagai pengganti bensin. Pengembangan Dimethyl Ether (DME) juga dinilai strategis sebagai substitusi LPG yang selama ini masih banyak diimpor.

“Gangguan rantai pasok global seperti di Selat Hormuz harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi. Kita tidak bisa terus bergantung pada impor,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perlunya pengkajian lebih mendalam terhadap kebijakan seperti Work From Home (WFH) sebagai upaya penghematan energi. Menurutnya, tidak semua sektor dapat menerapkan kebijakan tersebut secara efektif.

Di sisi lain, dampak El Nino juga diperkirakan akan memperparah kondisi, terutama pada sektor energi dan pertanian. Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berpotensi terganggu akibat berkurangnya debit air, sementara sektor pertanian akan mengalami peningkatan kebutuhan bahan bakar untuk irigasi.

Sebagai solusi jangka panjang, Deendarlianto mendorong pemanfaatan energi terbarukan seperti mikroalga, biodiesel, dan energi surya. Ia juga menekankan pentingnya implementasi Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) secara konsisten.

“Pengembangan energi harus direncanakan secara matang dan diiringi dengan pertumbuhan industri dalam negeri. Jangan sampai kita punya kebijakan energi nasional, tetapi tetap bergantung pada impor,” pungkasnya.

 

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X