Pengaliran gas perdana proyek pipa transmisi Cirebon–Semarang (Cisem) Tahap 2 resmi dilakukan di Batang. Infrastruktur ini siap menopang kebutuhan energi industri nasional.
Batang, SUARA PEMBARUAN – Pemerintah resmi melakukan gas in atau pengaliran perdana pada proyek pipa transmisi gas bumi Cirebon–Semarang (Cisem) Tahap 2 di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Rabu (18/3/2026). Momentum ini menandai kesiapan operasional salah satu infrastruktur strategis dalam sistem energi nasional.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, memastikan seluruh jalur pipa telah melewati uji teknis menyeluruh sebelum dioperasikan. Dari hasil pengujian tersebut, tidak ditemukan kebocoran sehingga pipa dinyatakan aman untuk menyalurkan gas ke sektor industri.
“Semua aspek teknis sudah terpenuhi. Pipa ini siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi industri,” ujarnya.
Proyek Cisem Tahap 2 memiliki panjang sekitar 242–245 kilometer. Jika digabungkan dengan Cisem Tahap 1, total jaringan mencapai kurang lebih 305 kilometer. Meski lebih panjang, proses penyelesaian tahap kedua hanya terpaut dua bulan dari tahap pertama berkat strategi pengerjaan paralel di beberapa ruas.
Sebagai perbandingan, Cisem Tahap 1 sepanjang sekitar 60 kilometer rampung dalam 17 bulan, sementara tahap kedua diselesaikan dalam waktu 19 bulan.
Pembangunan jaringan pipa ini merupakan bagian dari program strategis pemerintah melalui Kementerian ESDM untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Selain itu, infrastruktur ini mengintegrasikan pasokan gas dari berbagai wilayah, mulai dari Indonesia Timur, Natuna, hingga Andaman, ke dalam jaringan transmisi nasional.
Sementara itu, PT PGN (Persero) Tbk sebagai Subholding Gas Pertamina menyatakan siap mengoptimalkan pemanfaatan gas yang mengalir melalui pipa Cisem. Distribusi gas akan dilanjutkan ke pelanggan melalui jaringan yang dikelola bersama anak usahanya, PT Pertamina Gas, sebagai operator transmisi.
Direktur Utama PGN, Arief Kurnia Risdianto, menyebut keberadaan pipa ini membuka peluang besar bagi perluasan akses gas ke berbagai sektor, mulai dari kawasan industri hingga rumah tangga.
“Pemanfaatan pipa ini diharapkan optimal agar gas domestik bisa langsung dinikmati industri, bahkan menjangkau sektor komersial, UMKM, hingga jaringan gas rumah tangga,” jelasnya.
Menurut Wamen ESDM, integrasi jaringan ini akan mempercepat pengembangan kawasan industri dan ekonomi baru yang membutuhkan pasokan energi stabil. Ketersediaan energi yang andal dinilai menjadi faktor krusial dalam menarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Tak hanya itu, proyek ini juga diyakini membawa efek berganda bagi perekonomian. Infrastruktur gas dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, memperkuat devisa, hingga menambah pendapatan daerah.
Arief menambahkan, konektivitas jaringan gas nasional juga memberi fleksibilitas dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan energi. PGN berkomitmen menjaga keandalan distribusi demi mendukung kemandirian energi nasional.
Dalam kesempatan tersebut, pemerintah daerah turut didorong mempercepat proses perizinan, terutama yang menjadi kewenangan daerah seperti persetujuan bangunan dan lingkungan. Status KITB sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) diharapkan dapat mempercepat arus investasi berkat kemudahan regulasi.