Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan akan menjadi saksi perayaan Mahashivaratri yang untuk pertama kalinya digelar secara besar di Indonesia. Momentum sakral umat Hindu tersebut menjadi puncak rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026 yang berlangsung pada 15–16 Februari di Lapangan Wisnu.
Sebanyak 1.008 pelita atau dipa dijadwalkan dinyalakan serentak, berpadu dengan tabuhan damaru yang menggema di pelataran candi. Suasana hening dan khidmat diharapkan menyelimuti kawasan Prambanan, menghadirkan ruang refleksi sekaligus doa bagi kedamaian semesta.
Ketua Tim Pemanfaatan Candi Prambanan, I Nyoman Ariawan Atmaja, menjelaskan Mahashivaratri merupakan malam suci yang dimaknai sebagai waktu kontemplasi mendalam bagi umat Hindu. Pemujaan ditujukan kepada Dewa Shiva, simbol transformasi dan kesadaran tertinggi. Menurutnya, denting damaru menjadi perlambang panggilan untuk bangkit dari “tidur spiritual” dan menapaki jalan kebijaksanaan.
Rangkaian perayaan diawali dengan kirab budaya dari Candi Kedulan menuju Prambanan. Prosesi membawa berbagai simbol sakral, seperti asap suci, panji, tombak, shivalingga, serta tirta atau air suci yang dihimpun dari 36 provinsi dan sembilan candi di Nusantara. Ritual Maha Gangga Tirta Gamana menjadi lambang penyucian, menegaskan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Memasuki malam puncak, persembahyangan Abhisekam akan dilangsungkan hingga menjelang fajar. Di saat yang sama, Festival Dhipa menghadirkan penyalaan 1.008 pelita sebagai representasi cahaya Trimurti—Brahma, Wisnu, dan Shiva—yang diyakini melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan kegelapan. Pertunjukan video mapping turut memperkaya visual, memadukan nilai spiritual dengan sentuhan teknologi modern.
Panitia membuka partisipasi masyarakat dengan tiket seharga Rp85.000, termasuk pelita dan gelang nawadatu sebagai simbol perlindungan. Paket keluarga dan komunitas juga tersedia guna mendorong kebersamaan dalam merayakan malam suci tersebut.
Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, memandang penyelenggaraan Mahashivaratri di Prambanan sebagai ruang dialog budaya dan penguatan identitas Hindu di Indonesia. Ia menilai perayaan ini tidak hanya bermakna religius, tetapi juga mempertegas wajah Indonesia yang menjunjung keberagaman dan toleransi.
Senada, Ketua PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tanaya, menyebut keterlibatan puluhan sulinggih dalam sakralisasi tirta menjadi simbol persatuan spiritual Nusantara. Menurutnya, Mahashivaratri merupakan momentum pembersihan batin secara kolektif demi menghadirkan kejernihan pikiran dan kedamaian bersama.
Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, menambahkan bahwa Prambanan sebagai lokasi perayaan perdana memiliki makna historis dan spiritual yang kuat. Ia menekankan keterbukaan akses bagi masyarakat luas agar tradisi kuno dapat dinikmati secara inklusif, tanpa kehilangan kesakralannya.
Dengan rangkaian ritual semalam suntuk dan ribuan cahaya pelita yang menyala bersamaan, Mahashivaratri di Prambanan diharapkan menjadi babak baru perayaan spiritual nasional, sekaligus mengukuhkan Yogyakarta sebagai simpul budaya dan toleransi di Indonesia.