Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan kembali tekadnya untuk melestarikan pencak silat sebagai sebuah warisan budaya nasional. Pernyataan ini disampaikan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, saat menerima kunjungan dari komunitas Paseduluran Angkringan Silat, sebuah perkumpulan pegiat dan pemerhati pencak silat di Yogyakarta, di Kompleks Kepatihan, Jumat (30/01/2026).
Baca Juga: Siham Buktikan Disabilitas Bukan Halangan Kuliah
Dalam audiensi tersebut, Sri Paduka menggarisbawahi bahwa upaya pelestarian pencak silat perlu dilaksanakan dengan pendekatan yang terukur dan memiliki kerangka kerja definitif, didukung proses kaderisasi dan regenerasi, agar manfaatnya dapat menjangkau publik secara lebih luas. “Pemerintah harus mampu merancang program yang terukur. Untuk itu, aktivitas kebudayaan seperti pencak silat memerlukan panduan kerja yang jelas, supaya tujuan dan dampak literasi budayanya bagi masyarakat dapat dievaluasi,” tuturnya.
Baca Juga: Komisi XI DPR RI Ajak OJK dan Pemprov Bengkulu Berkolaborasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lewat UMKM
Wakil Gubernur juga mengajak untuk merancang program-program inovatif yang tidak selalu membutuhkan anggaran tinggi. Menurutnya, proposal kegiatan yang dirancang dengan matang akan memungkinkan pencak silat dilaksanakan secara berkelanjutan dan mudah disinergikan dengan berbagai stakeholder. Ia menegaskan, kunci utama agar pencak silat tetap menarik bagi generasi muda dan dapat dikembangkan sebagai bagian dari literasi serta wisata budaya Yogyakarta terletak pada komitmen bersama dalam melakukan kaderisasi.
Baca Juga: OJK Tunjuk Plt Dirut BEI, Reformasi Pasar Modal Dipercepat
Pada pertemuan itu, perwakilan dari komunitas Paseduluran Angkringan Silat menyampaikan laporan mengenai penyelenggaraan Pencak Malioboro Festival (PMF) ke-8 pada 12–14 September 2025. Festival tersebut berhasil menarik minat dan antusiasme masyarakat, meski dalam pelaksanaannya sempat mengalami beberapa kendala teknis.
Koordinator Paseduluran Angkringan Silat, Suryadi, mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Daerah DIY. Ia menegaskan kesiapan komunitasnya untuk menindaklanjuti masukan dari Wakil Gubernur mengenai pentingnya sosialisasi pencak silat sebagai tradisi budaya. “Kami berkomitmen untuk mendorong pemahaman masyarakat bahwa pencak silat bukan hanya seni bela diri atau sesuatu yang berkonotasi kekerasan, tetapi lebih sebagai warisan nenek moyang yang penuh nilai saling mengasah, mengasuh, dan menghormati,” paparnya.
Suryadi menambahkan, kolaborasi dengan berbagai pihak telah dilakukan untuk mengembangkan pencak silat dari sisi kebudayaan dan melibatkan pemuda melalui festival maupun aktivitas rutin. Diharapkan, generasi muda dapat menjadi pewaris yang mempertahankan nilai-nilai luhur tersebut. Wakil Koordinator Paseduluran Angkringan Silat, Sugiarto, menyoroti perlunya pengenalan pencak silat sejak usia dini. Menurutnya, pembelajaran pencak silat di jenjang pendidikan dasar hingga menengah akan menanamkan rasa cinta generasi muda terhadap budaya lokal. “Seluruh upaya ini diharapkan memberikan kontribusi nyata serta dampak positif yang langsung dapat dirasakan masyarakat,” ucapnya.