Dari 30 peserta nantinya akan dipilih 10 jurnalis untuk field trip ke Leuser.
Rinaldo dari BBTNGL sebagai pemateri pertama mejelaskan perbedaan antara TNGL dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dengan tema “Taman Nasional Gunung Leuser -Pengelolaan, Tantangan, dan Harapan”.
Rinaldo turut menayangkan beberapa gambar perbedaan antara wilayah KEL dan BBTNGL serta Kawasan Areal Penggunaan Lain (APL).
“TNGL terdapat di dua provinsi yaitu Sumatera Utara dan Aceh. Kalau di Sumatera Utara ada Langkat dan Karo. Kalau di Aceh, ada di Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Aceh Selatan. Terdapat pula museum flora yang sangat tinggi di sini (Aceh),” katanya.
Menurutnya, di Aceh terdapat kambing hutan dan anjing hutan yang sudah jarang terdapat di daerah yang lain. Kekayaan Aceh masih banyak di TNGL. Terdapat pula tempat wisata atau pusat kunjungan yang masih jadi perhatian terutama di Provinsi Sumatera Utara.
“Dari sekian luas lahan, yang terbuka hanya 4.000 hektare, artinya masih banyak wilayah hutan kita yang belum terbuka. Padahal, sistem zonasi di TNGL sebisa mungkin tidak dibuka untuk investor masuk, tetapi diprioritaskan untuk masyarakat di sekitar,” tambahnya.
Namun, dalam perjalanannya pembukaan lahan tersebut muncul kasus negatif antara satwa liar dan manusia yang masuk ke daerah pemukiman penduduk. Maka, seolah-olah satwa itu yang salah karena sudah merugikan atau menjadi “biang kerok” bagi masyarakat.
Dijelaskan, TNGL dideklarasi sebagai Taman Nasional Pertama pada 6 Maret 1980. Kemudian, dijadikan cagar biosfer oleh MAB Unesco pada tahun 1981. Lalu, dijadikan kebanggaan ASEAN oleh ASEAN Centre for Biodiversity tahun 1984. Kemudian, dijadikan warisan dunia (bersama TNKS dan TNBBS) ditetapkan tahun 2004. Sejak Januari 2023 kantor TNGL berpindah di Banda Aceh.
Sedangkan Dekan FKH, Teuku Reza Alza menjelaskan tentang transimisi penyakit kehewanan (zoonosis) pada interaksi manusia—satwa liar. Teuku Reza memberikan beberapa contoh penyakit tersebut. Selanjutnya, Muhammad Arif menjelaskan tentang kaedah jurnalistik dalam menulis perspektif isu interaksi negatif antara manusia dan satwa.
Pada workshop hari kedua, pihak BKSDA akan memberikan materi dengan tema “upaya penanganan interaksi negatif manusia dan satwa, disusul WCS yang akan menjelaskan “Cerita lapang dari Wildfile Response Unit (WRU) bekerjasama masyarakat dan diakhiri oleh Dandy Laksono yang menyampaikan “Peran Media dalam Mitigasi: bagaimana berdamai dengan alam”.(SPNews/Muhammad Hamzah)