Menariknya, Karen juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses branding dan perencanaan konsep rangkaian bunga. Ia menggunakan AI untuk mencari ide desain, memahami tren pasar, dan menentukan segmentasi yang tepat.
“Jualan bunga itu bukan sekadar jualan bunga. Ada branding, visual, dan storytelling-nya. Aku pakai AI buat bantu visual branding juga,” jelasnya.Baca Juga: Bill Gates Kunjungi Sekolah di Jakarta, Puji Program Makan Bergizi Gratis untuk Anak dan Ibu
Untuk menjaga kesegaran bunga, Karen menggunakan chiller khusus dan mencampurkan flower food dan B Clean dalam air sebagai cara menjaga kualitas bunga agar tetap segar lebih lama. Ia juga menyebutkan bahwa tantangan dalam bisnis florist adalah menjaga stok agar cepat habis agar bunga tidak layu sia-sia.
Target pasar utama Blosera saat ini adalah untuk momen wisuda, ulang tahun, anniversary, hingga hadiah spontan. “Potensinya besar banget. Kalau dimaksimalkan lewat iklan digital, pasti tiap hari ada yang beli,” ujarnya optimis.Baca Juga: Wapres Gibran Puji Mentan Andi Amran, Selalu Turun ke Sawah Serap Aspirasi Petani
Dengan bekal pengalaman mengikuti private class merangkai bunga serta pemanfaatan teknologi digital, Karen berharap Blosera dapat berkembang menjadi florist premium di Semarang dan sekitarnya.*