Pemangkasan Anggaran Riset, Pemerintah Korbankan Efektifitas dan Daya Saing Bangsa

Photo Author
Fuska Sani Evani, Suara Pembaruan
- Senin, 17 Februari 2025 | 23:12 WIB
Gerbang kampus UGM
Gerbang kampus UGM

 Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Pemerintah melakukan efisiensi atau pemangkasan anggaran termasuk di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sain dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI, sebesar Rp 14,3 triliun dari pagu anggaran awal Rp 56,6 triliun. 

Akibatnya, menurut dosen Manajemen Kebijakan Publik UGM,  Agustina Kustulasari, muncul pertanyaan besar mengenai bagaimana efisiensi tersebut diterapkan. "Kata ‘efisiensi’ sendiri sebenarnya berarti mengurangi yang boros. Namun, pertanyaannya, bagian mana yang dianggap boros? Jika kita langsung memangkas dalam jumlah besar, apakah benar praktik selama ini seboros itu?" ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa efisiensi anggaran tidak boleh mengorbankan efektivitas. Dalam pandangannya, efisiensi hanya akan bermakna jika selaras dengan efektivitas. Artinya, tujuan utama yang ingin dicapai tetap harus terpenuhi, tetapi dengan cara yang lebih efisien. “Jika efisiensi justru mengurangi daya dukung terhadap riset dan inovasi, maka kebijakan ini perlu dikaji ulang," jelasnya. 

Dalam konteks riset di perguruan tinggi, Agustina menyoroti bahwa pemotongan anggaran dapat berdampak luas, baik bagi dosen maupun mahasiswa. Sebab, Universitas sering kali merancang program berdasarkan anggaran tahun sebelumnya. Jika ada perubahan mendadak seperti sekarang, tentu akan mengganggu dinamika kerja, perencanaan program, dan bahkan bisa menghambat penelitian yang sudah berjalan. Padahal riset dan inovasi menjadi bagian penting dalam peningkatan kemampuan daya saing bangsa.

Adanya pemangkasan anggaran ini, Agustina menyebut bahwa perguruan tinggi harus semakin kreatif dalam mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk kerja sama dengan industri dan lembaga internasional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa langkah ini bukan hal yang baru dan sudah lama dilakukan. "Pertanyaannya sekarang adalah, apa lagi yang bisa kita lakukan? Jika anggaran riset sudah terbatas sejak awal, lalu masih dipangkas lagi, tentu ini menjadi tantangan besar bagi peneliti dan institusi akademik. Kita harus terus kreatif, tetapi pada saat yang sama negara juga perlu terus berperan," ujarnya. 

Ia juga turut menekankan pentingnya mempertimbangkan kembali dampak jangka panjang dari kebijakan efisiensi ini. Pemangkasan anggaran harus dilakukan dengan cermat dan tidak boleh menghambat pencapaian tujuan utama pendidikan dan riset. “Pemerintah perlu memastikan bahwa efisiensi ini benar-benar untuk sesuatu yang lebih bermanfaat dan bukan pemangkasan untuk kepentingan politik," ujarnya.

 

 

Editor: Fuska Sani Evani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X