Kisah Perburuan Paus dan Pengalaman Traumatis di Atas Kapal: Pentas Teater Kampus yang Mampu Memukau Penonton

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 6 Desember 2024 | 12:16 WIB
Dialog para aktor teater Gama saat memerankan tokoh dalam Where the Cross is Made karya Eugene O’Neill, di Balairung Kampus UPGRIS, Kamis (5/12) malam.
Dialog para aktor teater Gama saat memerankan tokoh dalam Where the Cross is Made karya Eugene O’Neill, di Balairung Kampus UPGRIS, Kamis (5/12) malam.

 




Semarang, SUARA PEMBARUAN - Setting rumah berbentuk kapal besar di atas panggung, sudah menggoda saat penonton memasuki, Balairung Kampus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Kamis (5/12) malam.Baca Juga: 67 Tahun Pertamina Donor Darah dan VCT HIV/AIDS

Empat aktor dengan karakter kuat masing-masing mengajak penonton larut dalam suasana. Masa lalu kelam yang dialami Nat Bartlett membuatnya tumbuh menjadi lelaki yang penuh dan keraguan pesimisme. Dia terbelenggu dalam bayang- bayang obsesi ayahnya sendiri, Kapten Isaiah Bartlett yang telah pensiun dan menjadi gila.

Jejak waktu terhenti saat Marry Allen karam bersama harta karun dan seluruh awak kapalnya. Naskah drama satu babak ini berkisah pengalaman tentang traumatis berpadu dengan garis kabur antara kenyataan dan ilusi.Baca Juga: Audiensi dengan Pj Gubernur Sulsel, Pastikan Pasokan BBM & LPG Selama Nataru.

Itulah pentas Teater Gema UPGRIS yang membawakan naskah lawas, Where the Cross is Made karya Eugene O’Neill.

Pertunjukan berdurasi 90 menit itu, disutradarai Afrian Baskoro. Naskah berbahasa Inggris terbitan 1923 itu diterjemahkan oleh asisten sutradara, Kartikawati.Baca Juga: Bukan Urusan Politik, Calon Wakil Gubernur Papua Dilaporkan Istrinya ke Polda

Pementasan ini memukau sedikitnya 1.000 penonton, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, pelaku teater hingga masyarakat umum dari dalam dan luar Kota Semarang.


"Pentas produksi akhir tahun ini mengangkat isu yang merespon fenomena sosial di masyarakat, yaitu parenting, dan dampak psikologis anak atas pola asuh orang tua yang obsesif," ungkap sang sutradara, Baskoro.Baca Juga: AHY: Program Transmigrasi Bukan Sekadar Memindahkan Warga ke Lokasi Baru, Tapi Harus Tingkatkan Kesejahteraan

Berangkat dari kegelisahan mengenai generasi saat ini, Baskoro memilih naskah lawas, tetapi yang dapat diterima oleh generasi saat ini karena masih punya relevansi dengan masyarakat zaman sekarang.

"Harapannya dengan mengangkat isu pendidikan orang tua ke anak ini, masyarakat lebih berhati-hati dalam menanamkan nilai-nilai ke anaknya, jangan sampai anak-anak mengalami pengalaman traumatis seperti yang dialami tokoh Nat," ujar Baskoro.Baca Juga: Diduga Lakukan Asusila Calon Wakil Gubernur Dilaporkan Istrinya ke Polda Papua

Pentas ini melibatkan berbagai pihak, salah satunya, yaitu seorang guru dari Kendal bernama Akhmad Sofyan Hadi alias Ian. Dia memerankan sosok Captain Isaiah Bartlett yang terobsesi melebihi batas.

Sebuah kehormatan baginya bisa ikut andil menjadi aktor dalam pentas ini Harapannya pentas ini mampu meneror siapa saja yang menyaksikan.Baca Juga: Hendra Setiawan Sampaikan Salam Perpisahan, Resmi Pensiun Usai 35 Tahun Meraih Segudang Prestasi

"Bahwa sebelum ramai dunia menggunakan minyak bumi, ternyata perburuan paus lebih dahulu ada untuk diambil minyaknya. Juga peristiwa-peristiwa lain di dalamnya seperti obsesi seorang ayah kepada anaknya sehingga membuat batas kenyataan dan ilusi menjadi nyaru," kata Ian.

Dipadukan dengan latar rumah di daerah pesisir yang dibuat seperti kapal dan ilustrasi musik akrobat, pentas ini dapat menggiring penonton ke petualangan para pemburu paus.Baca Juga: Mending Menunaikan Umroh, Ketimbang Liburan Ke Negara Lain

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X