Surakarta, suarapembaruan.news - Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin mengatakan Taman Balekambang memiliki nilai sejarah yang harus dilestarikan. Selain pernah dijadikan pemandian putri kraton, taman ini juga menjadi tempat bermain kelompok Srimulat yang legendaris.
"Luasnya 12,8 hektare. Tadi saya sudah melihat gedung pertemuan (dan pertunjukan) yang representatif. (Bangunan) yang lama sudah dirobohkan," kata Wapres, saat meresmikan penataan kawasan Taman Balekambang, Kota Surakarta, Kamis (25/7).
Taman Balekambang juga masih terjaga keasriannya dengan banyak pohon-pohon berusia ratusan tahun. Ia menyebutkan, sangat tepat jika lokasi tersebut dijadikan taman hijau, tempat rekreasi, edukasi, serta pengembangan budaya dan seni.
Baca Juga: Pelaksanaan PIN Tahap II di Bengkulu Sasar 287.541 Anak
Kelestarian ekologis dan seni budaya tersebut diharapkan dapat menjadi daya tarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara untuk datang berkunjung.
Taman ini juga didorong untuk memberikan manfat signifikan kepada masyarakat dan perekonomian. Salah satunya dengan menyediakan tempat khusus untuk pelaku UMKM menjajakan produknya.
Ma'ruf Amin berpesan agar Taman Balekambang dioptimalkan menjadi pusat berbagai aktivitas warga, mulai dari kegiatan sosial, olahraga, kesenian, dan budaya. UMKM juga harus dilibatkan dalam pengisian gerai-gerai yang ada.
"Saya mengajak untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam pemanfaatan taman ini. Ke depan, pembangunan infrastruktur hijau serupa perlu terus dipacu di berbagai kota di Indonesia. Hal ini tentu memerlukan perencanaan dan sinergi antara pusat dan daerah," jelasnya.
Baca Juga: BKKBN dan Anggota Komisi IX DPR-RI Kampanye Stunting di Kabupaten Seluma
Sebagai informasi, Taman Balekambang didirikan pada tahun 1921 oleh KGPAA Mangkunegara VII sebagai bentuk kasih sayang kepada kedua putrinya, GRAy Partini dan GRAy Partinah. Taman itu awalnya digunakan sebagai pemandian putri Kraton Mangkunegaran dan taman botani sehingga tidak dibuka untuk umum.
Dalam perkembangannya, Taman Balekambang kemudian dibuka untuk umum oleh KGPAA Mangkunagara VIII. Sejak itu mulai diselenggarakan beragam kesenian rakyat. Kemudian tahun 2008 dilakukan revitalisasi dan mulai dimultifungsikan sebagai taman seni budaya, taman botani, taman edukasi, dan taman rekreasi.
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana berharap kawasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pusat kebudayaan Jawa, taman rekreasi keluarga, edukasi, dan hutan kota.
Penataan kawasan berlangsung selama kurang lebih 17 bulan dengan nilai kontrak Rp170,1 miliar. Tempat tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang terus dilestarikan dan dilindungi.
Artikel Terkait
Selama Lebaran, 600.000 Wisatawan Diperkirakan Kunjungi Kota Wisata Batu
Lestari Moerdijat: Untuk Penuhi Target Kunjungan Wisatawan, Kendala Pelaku Wisata Nasional Harus Diatasi
Destinasi Wisata Nasional Harus Siap Menghadapi Potensi Lonjakan 14 Juta Wisatawan di Tahun Ini
DDTS Bengkulu Akan Jadikan Taman Wisata Edukasi Alam Ramah Lingkungan
Mbak Ita Siap Jadikan Tanggul Laut dan Kampung Bahari Tambaklorok Jadi Destinasi Wisata Baru