Yogyakarta, suarapembaruan.news – Merespon polarisasi politik yang terjadi di Indonesia, terutama sejak masa pemilu tahun 2019, Dr Wahyu Riawanti dan dr Ryu Hasan meluncurkan sebuah buku berjudul “Neuropolitik dan Sosial Decision Making”. Karya interdisipliner yang menggabungkan ilmu politik, neurosains, dan psikologi sosial ini, mengungkap proses pengambilan keputusan dalam konteks politik dan sosial.
Buku ini memberikan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana otak manusia berperan dalam mengambil keputusan politik dan sosial, serta bagaimana faktor-faktor sosial memengaruhi proses pengambilan keputusan tersebut, termasuk munculnya polarisasi antara dua kubu pendukung capres yang dikenal dengan sebutan "Cebong" dan "Kampret" masih berlanjut hingga Pemilu 2024. Neuropolitik menawarkan alternatif jawaban untuk mengatasi perpecahan ini.
Dalam diskusi buku yang digelar di Magister Ilmu Administrasi Publik (MAP), FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (24/05/2024) dua penulis dan Prof Dr Agus Pramusinto, membahas berbagai topik seperti polarisasi politik, pengaruh media sosial, bias kognitif, dan pengaruh kelompok terhadap keputusan individu.
Dengan memadukan pendekatan neurosains, ilmu politik, dan psikologi sosial, buku “Neuropolitik dan Sosial Decision Making” menawarkan wawasan yang mendalam dan multidimensional tentang proses pengambilan keputusan manusia dalam konteks politik dan sosial.
Penulis juga membahas tentang bagaimana neuroscience dapat memberikan perspektif baru dalam memahami pilihan sosial dan politik. memaparkan bagaimana pemahaman neuropolitik dapat memberikan alternatif jawaban tentang netralitas dan polarisasi politik yang sering kali menimbulkan perpecahan, sebuah alternatif jawaban tentang netralitas dan polarisasi politik dalam perspektif neuroscience
Dengan latar-belakang ahli bedah otak, dr Ryu Hasan menjelaskan bagaimana otak manusia bekerja dalam proses pengambilan keputusan sosial dan politik. Sementara itu, Profesor Dr. Agus Pramusinto menambahkan pandangannya tentang pentingnya memahami voters' behavior.
Buku "Neuropolitik dan Sosial Decision Making" mengungkap perdebatan mengenai rasionalitas dan kehendak bebas dalam menentukan pilihan politik. Pembahasan ini menjadi penting karena seringkali dianggap bahwa setiap individu memiliki kehendak bebas atau free will dalam membuat pilihan politik.
Sementara, konsep free will ini relevan dalam neuroscience, yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam proses pengambilan keputusan.
Dengan pendekatan neuroscience untuk memperkaya kajian tentang pilihan sosial dan politik Diskusi tersebut menyoroti bagaimana pemahaman neuropolitik dapat memberikan alternatif jawaban tentang netralitas dan polarisasi politik yang sering kali menimbulkan perpecahan.
Buku ini didukung data neurosaintifik yang menjelaskan secara komprehensif bagaimana individu memutuskan pilihan politiknya. Pemahaman tentang rasionalitas, netralitas dan intoleransi, serta pentingnya pemilu harus diperkuat melalui pendidikan politik yang aktif. Sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan lainnya dapat memperkenalkan materi politik secara lebih komprehensif. (*)
Artikel Terkait
Prodi Kedokteran UGM Masuk Ranking 359 Dunia
UGM Kembangkan Modul Pembelajaran Daring Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim Bersama Perguruan Tinggi Asia dan Eropa
UGM dan Namibia Sepakat Kerja Sama Pengembangan Produksi Benih