Jakarta – Suarapembaruan.news. Banyak Aparatur Sipil Negara (ASN) muda melakukan nego-nego jabatan. Perilaku seperti itu tercemar dari pemikiran kolot PNS terdahulu.
Hal itu dikemukan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri, Suhajar Diantoro dalam Korpri Menyapa di Kemendagri, Jakarta Pusat, Rabu (6/3/2024).
“Saya menyadari adik-adik yang sekarang sudah pindah ke fungsional. Itu di dalam hatinya masih ada sedikit rasa gundah. Kok aku tak jadi kabag ya. Tak jadi kepala biro. Aku kan ingin jabatan struktural,” kata Suhajar
Dilingkungan ASN masih melekat paham birokrasi ala Max Weber yang terkenal dengan sistem hierarki vertikal.
“Birokrasi ala Max Weber itu sudah mendarah daging di seluruh generasi kami dan sebagian Anda (ASN muda) tertular oleh faham itu sehingga Anda mendambakan jabatan-jabatan struktural,” tambahnya.
Suhajar menegaskan, reformasi birokrasi saat ini lebih mengutamakan keahlian. Dia menyarankan para aparatur sipil negara (ASN) muda tak terjebak dengan pemikiran kuno tersebut.
Suhajar menyebut masih ada sejumlah ASN muda yang kekeh ingin mendapatkan jabatan struktural tersebut.
“Sebagian adik-adik (ASN muda) ada yang terjebak, Pak saya jadikanlah kabag, kurang keren di fungsional,” ungkapnya.
Sesuai namanya, jabatan struktural adalah mereka yang mengisi posisi yang terdapat dalam struktur organisasi. Sedangkan pejabat fungsional sebaliknya, mereka tidak tercantum dalam struktur.
Di negara-negara maju sekarang seperti negara bagian New York, tak ada lagi penerimaan sekjen dan dirjen, karena jabatan itu sudah tak ada. Semua sudah sangat fungsional.
Pernyataan Sekjen itu banyak terjadi di daerah, apalagi dengan model pemilihan langsung kepala daerah (bupati/wali kota/gubernur). Tak jarang ASN melibatkan diri dalam politik praktis, menjadi tim terselubung salah satu pasangan calon dengan harapan jika menang akan mudah untuk negosiasi posisi jabatan.
Dengan model seperti ini, tak sedikit pula PNS yang menjadi korban, ketika paslon yang didukungnya kalah, risikonya akan dinon jobkan. Kejadian seperti itu dialami sejumlah ASN di Kota Makassar. (SP.news/MK Said)