Yogyakarta, Rumah Damai: Ribuan Mil dari Thailand, Pengorbanan Langkah Kaki Menuju Borobudur

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Selasa, 26 Mei 2026 | 22:20 WIB
Tokoh Tionghoa Yogyakarta, Ellyn Subiyanti mewakili PSMTI saat menyerahkan jubah kepada Bhikku Thailand (ist)
Tokoh Tionghoa Yogyakarta, Ellyn Subiyanti mewakili PSMTI saat menyerahkan jubah kepada Bhikku Thailand (ist)

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Sebuah perjalanan suci menempuh ribuan mil dari Thailand akhirnya tiba di Daerah Istimewa Yogyakarta. Rombongan dalam rangkaian Indonesia Walk For Peace 2026 ini membawa pesan perdamaian dan persaudaraan yang melampaui batas negara. Kehadiran mereka disambut hangat oleh seluruh elemen masyarakat, lintas agama, dan budaya di Kota Pelangi tersebut.

Dalam acara Puja Bhakti – Dana Paramitha yang digelar penuh khidmat, Pembimbing Masyarakat Buddha (Pembimas Buddha) Kanwil Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata, menegaskan bahwa langkah kaki dari negeri tetangga itu memiliki makna mendalam bagi seluruh umat manusia. Ia mengajak warga Yogyakarta menyambut momen ini dengan sukacita dan penghargaan setinggi-tingginya.

"Kedatangan mereka dari Thailand ke Indonesia adalah napak tilas dengan misi membawa jalan perdamaian dan toleransi yang sangat besar nilainya. Sudah selayaknya kita warga Yogyakarta menyambut dengan hati gembira atas apa yang telah mereka lakukan, menempuh ribuan mil demi menyebarkan pesan damai ini," ujar Pandu.

Ia berharap semangat persaudaraan ini tidak berhenti di sini dan dapat menjadi agenda tahunan. "Kegiatan indah ini bisa berlanjut terus setiap tahunnya. Agar masyarakat Yogyakarta senantiasa bisa menyambut serta merasakan limpahan berkat dan nilai kebaikan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia," tambahnya.

 

Kisah di Balik Langkah Kaki: Terik Bali dan Pengorbanan Fisik

Dalam sesi *Aradhana Dhammadesana* (ceramah Dhamma), Bhikku Phra Prasan membuka mata para hadirin tentang beratnya perjalanan suci tersebut. Ia bercerita mulai dari keberangkatan di Pulau Bali hingga tiba di DIY, di mana setiap langkah adalah bukti pengabdian bagi kedamaian dunia.

Perjalanan kaki sejauh itu menguji fisik dan ketahanan. Bhikku Phra Prasan mengungkapkan teriknya matahari di Bali membuat kulit terbakar dan kaki para rombongan penuh luka. Bahkan, beberapa bhante terpaksa dirawat di rumah sakit saat perjalanan mendekati Yogyakarta karena kondisi fisik yang menurun drastis. 

"Bali panas, sampai kaki luka-luka. Semua itu demi kedamaian dunia. Saat ini ada beberapa bhante yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit dalam perjalanan ke Jogja," ungkapnya dengan nada haru di hadapan para umat.

Meski penuh rintangan, semangat damai tetap terjaga. Bhikku Phra Prasan menyisipkan candaan ringan yang mencairkan suasana, seperti ajakan kepada umat yang hadir untuk turut berjalan kaki melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur. Ajakan santai itu langsung disambut tawa riuh dan antusiasme jamaah.

 

Yogyakarta: Simbol Hidup Toleransi dan Keberagaman

Semangat kebersamaan ini mendapat dukungan penuh dari elemen budaya masyarakat. Tokoh Tionghoa Yogyakarta sekaligus Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) DIY, Ellyn Subiyanti, menilai kegiatan ini sebagai bukti nyata bahwa Yogyakarta layak disebut City of Tolerance.

"Kami melihat langkah mereka dari ribuan mil jauhnya sebagai pesan persaudaraan yang sangat indah. Bagi masyarakat Tionghoa di Yogyakarta, kegiatan ini menegaskan bahwa kota ini adalah rumah bagi siapa saja yang membawa kedamaian. Keberagaman di sini bukan pemisah, melainkan kekuatan nyata. Kami bangga bisa ambil bagian dalam momen suci ini," tegas Ellyn.

Halaman:

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X