Surabaya, SUARA PEMBARUAN – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman, meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa Tahun 2026 di Gudang Bulog Kabupaten Sidoarjo.
Gubernur menegaskan, GPIPS merupakan langkah strategis memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global.
"Ketika pemerintah pusat membangun ketahanan pangan, maka Jawa Timur sudah masuk pada kedaulatan pangan berkelanjutan," tegas Khofifah, Rabu (13/5/2926).
Pemilihan Jatim sebagai pusat peluncuran GPIPS bukan tanpa alasan. Berdasarkan data BPS, kinerja ekonomi Jawa Timur terus menunjukkan tren positif. Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Jatinm tumbuh sebesar 5,96% (y-o-y), tertinggi se-Pulau Jawa dan lebih tinggi dari rata-rata ekonomi nasional.
Provinsi ini juga menjadi kontributor ekonomi terbesar kedua nasional dengan kontribusi sebesar 14,40% terhadap PDB Indonesia dan 25,16% terhadap perekonomian Pulau Jawa.
Sedangkan terkait inflasi, pada April 2026, inflasi Jawa Timur secara tahunan tercatat sebesar 2,85% dan secara bulanan sebesar 0,02%. Angka ini masih berada dalam rentang sasaran pengendalian inflasi nasional.
Adapun tiga komoditas utama pendorong inflasi bulanan pada April 2026, antara lain Angkutan Udara (0,23%), Minyak Goreng (0,06%) dan Nasi dengan Lauk (0,03%).
Mengacu kondisi tersebut, Khofifah menyebut bahwa Pemprov Jatim akan terus melakukan support diantaranya lewat Program EPIK Mobile atau Etalase Pengendali Inflasi Kabupaten/Kota Mobile.
Ia berharap kehadiran EPIK Mobile dapat menjadi instrumen penguat kerja sama antar-daerah (KAD) dalam melakukan mitigasi inflasi secara lebih responsif.
"Sebetulnya koneksitas di antara pasar ke pasar, Kabupaten/Kota seperti yang diinisiasi lewat KAD adalah ikhtiar yang tidak pernah berhenti. Bahkan, kita selalu mendapatkan update bagaimana volatile food yang hampir selalu terjadi di kabupaten atau titik yang sama dan berulang," tuturnya.
Melalui platform ini, pihaknya juga berharap sinergi antar-wilayah dapat terus ditingkatkan guna memastikan distribusi pangan berjalan lebih merata dan efisien.
Di sisi lain, Gubernur Khofifah juga menekankan bahwa Jatim harus menjadi pelopor terwujudnya pangan sejahtera yang manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
Dimana, pangan sejahtera tidak hanya terbatas pada ketersediaan komoditas sumber kalori seperti beras, tetapi juga harus mencakup pemenuhan protein hewani bagi masyarakat. Integrasi antara kecukupan kalori dan protein menjadi kunci pembangunan kualitas sumber daya manusia.
"Kenapa populasi sapi baik potong maupun sapi perah di Jawa Timur itu tinggi sekali dibanding provinsi lain karena kita diuntungkan oleh keberadaan Balai Besar Inseminasi Buatan di Singosari Malang," ucap Khofifah.
Artikel Terkait
Terima Rekor MURI Gubernur Jatim Luncurkan 40 Sekolah Berintegritas
91,46 Persen Lulusan SMK Jatim Jalankan Program Bekerja, Melanjutkan dan Wirausaha
Jatim Dominasi Prestasi Nasional, Raih 45.839 Medali di SIMT Puspresnas