Yogyakart, SUARA PEMBARUAN - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat realisasi reklamasi lahan bekas tambang hingga Juni 2025 mencapai 5.739,39 hektare atau 80,43 persen dari target tahun 2025. Sejak 2021 hingga 2024, kepatuhan perusahaan tambang terhadap kewajiban reklamasi terus meningkat. Reklamasi tidak hanya dilakukan di area bekas galian, tetapi juga di tempat penimbunan tanah penutup, jalan, pabrik, serta bangunan pendukung operasional tambang.
Namun dalam banyak kasus, kerusakan lahan sudah sangat parah. Tanah kehilangan kemampuan alaminya untuk mendukung kehidupan. Produktivitas lahan menurun drastis. Di sinilah peran manusia dibutuhkan untuk membantu menyembuhkan tanah agar kembali pulih melalui penelitian dan pengabdian nyata. Salah satu contoh nyata datang dari Agus Affianto, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang akrab disapa Picoez. Ia dan tim pernah membantu menyusun model rehabilitasi kawasan tailing atau pasir sisa tambang timah di Desa Manggar, Belitung Timur, tak jauh dari SD Laskar Pelangi. Menurut Picoez, kondisi lahannya ekstrem dan sulit dijadikan lahan produktif kembali. Berdasarkan studi sebelumnya, rumput saja butuh waktu hingga dua puluh tahun untuk tumbuh secara alami.
Timnya memulai dengan membuat demplot uji coba, namun tantangan kompleks segera muncul. Suhu pasir di lokasi mencapai 62,4 derajat Celcius pada pukul sepuluh hingga setengah sebelas pagi, sehingga hampir tidak mungkin menanam secara langsung dan efektif. Selain itu, pasir tidak mampu menyerap air. Saat hujan turun, kondisi tanah menjadi asam, akar tanaman sulit berkembang, dan nutrisi cepat hilang.
Kelalaian mereklamasi lahan bekas tambang tidak hanya meninggalkan lahan gundul. Lubang tambang yang ditinggalkan dapat menjadi kubangan air asam tambang yang mengandung logam berat dan bersifat sangat asam, sehingga meracuni sungai dan air tanah serta membunuh biota air. Tanah juga kehilangan struktur dan unsur haranya. Bekas tambang timah seperti di Belitung Timur hanya menyisakan pasir kuarsa yang miskin nutrisi, mudah erosi, dan cepat kering. Lubang tambang yang tidak ditutup rawan menjadi tempat tenggelam bagi anak-anak dan ternak. Hilangnya vegetasi permanen mengganggu rantai makanan, menghilangkan habitat satwa, dan memicu perubahan iklim mikro. Setelah tambang habis, masyarakat kehilangan mata pencaharian dari lahan yang rusak. Jika dibiarkan, pemulihan alami bisa memakan waktu puluhan bahkan ratusan tahun.
Picoez dan tim kemudian mengembangkan metode berbasis kompos blok di area sekitar sepuluh hektare. Kompos dipadatkan menjadi media tanam awal untuk meningkatkan kemampuan tanah menyimpan kelembapan. Beberapa jenis tanaman seperti buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu mulai ditanam dengan harapan menghasilkan serasah dan bahan organik sebagai fondasi awal ekosistem. Picoez menegaskan bahwa rehabilitasi lahan ekstrem tidak bisa dilakukan dengan pendekatan konvensional. Ia membagikan empat tahapan kunci, yaitu menanam asal hidup dengan memastikan tanaman bisa bertahan menggunakan kompos blok dari kotoran hewan terfermentasi, kemudian memantau secara intensif dengan menjaga kelembapan batang menggunakan potongan batang pisang saat kemarau, lalu meningkatkan kualitas tanaman melalui pemupukan yang tepat, dan terakhir memastikan tanaman mampu memberikan manfaat seperti berbuah. Menurutnya, kita tidak bisa menghadapi keadaan ekstrem dengan cara biasa-biasa saja dan dalam waktu singkat.
Picoez mengakui bahwa aspek sosial adalah tantangan terberat. Mayoritas masyarakat Belitung Timur terbiasa bekerja di sektor tambang timah, sehingga mengajak mereka beralih ke kegiatan rehabilitasi lahan tidak mudah. Pada awalnya, yang mau terlibat justru kelompok lansia, seperti Nek Inah, seorang nenek yang tetap semangat menanam semangka meskipun hasil panennya sempat dicuri menjelang Lebaran. Cerita Nek Inah menjadi sumber motivasi bagi tim. Melihat tanaman tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat adalah kebahagiaan tersendiri dan bukti bahwa niat baik untuk lingkungan tidak akan sia-sia. Untuk menarik minat warga, tim kemudian mengintegrasikan tanaman sayuran dalam demplot guna meningkatkan nilai ekonomi lahan rehabilitasi secara langsung.
Picoez mengingatkan bahwa banyak skema rehabilitasi saat ini lalai memperhatikan kondisi pra-rehabilitasi, yakni masyarakatnya. Rehabilitasi tidak hanya mencoba berbagai teknik, tetapi juga harus memikirkan manfaat untuk mereka. Pendekatan yang dilakukan timnya adalah mempercepat proses pemulihan alam dengan bantuan manusia secara terencana dan berkelanjutan. Secara alami, kawasan tersebut bisa kembali menjadi hutan lebat, tetapi butuh puluhan tahun. Intervensi manusia mempercepat proses itu.
Kabar terbaru, lahan rehabilitasi di Manggar masih terus dikembangkan oleh pemerintah daerah bersama masyarakat, meskipun tidak seintens dulu. Metode yang sama juga telah diadaptasi di daerah lain dengan kondisi serupa, bahkan oleh pemenang Kalpataru. Menutup wawancara, Picoez berpesan di momen Hari Hutan Sedunia. Ia berharap pemerintah tidak hanya memandang hutan sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai penyedia jasa lingkungan yang menjaga keseimbangan kehidupan. Reklamasi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan investasi untuk masa depan bumi dan manusia yang tinggal di atasnya.
Artikel Terkait
InJourney Fasilitasi Ribuan Warga Mudik Gratis, Tekankan Keselamatan dan Pemerataan Akses
Kolaborasi Pengelolaan Sampah Antar Daerah, Hasilkan Energi Baru Terbarukan
TPA Jatibarang Menerima1.090 Ton Sampah Selama Lebaran, Luar Biasa!
Arus Lebaran 2026 Terkendali, Trafik Penumpang Bandara InJourney Tumbuh Signifikan
Langit Lampung Heboh! Benda Bercahaya Misterius Ternyata Sampah Antariksa