Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Setahun setelah diluncurkan, layanan bullion bank yang dikembangkan oleh PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) menunjukkan perkembangan yang cukup kuat. Sejak diperkenalkan pada 26 Februari 2025, layanan ini telah mencatatkan volume pengelolaan emas mencapai 22,5 ton, disertai lonjakan jumlah nasabah hingga 400 persen.
Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., menilai kenaikan harga emas dunia sepanjang 2025 yang berada di kisaran 2.300 hingga 2.400 dolar AS per ons menjadi pendorong utama pertumbuhan bullion bank di Indonesia. Kenaikan ini memperkuat persepsi emas sebagai aset pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meski demikian, ia menekankan bahwa keberlanjutan tren tersebut tetap bergantung pada faktor mendasar seperti kepercayaan terhadap institusi, kejelasan regulasi, serta inovasi produk yang ditawarkan.
Dalam pengembangannya, bullion bank dinilai perlu tidak hanya berfokus pada penyimpanan emas, tetapi juga mengintegrasikannya dengan perencanaan keuangan jangka panjang. Wisnu menyoroti perlunya insentif finansial yang menarik, sistem keamanan dan transparansi yang kuat, integrasi dengan produk keuangan lain, serta peningkatan literasi masyarakat terkait manfaat bullion bank.
Ia juga melihat adanya karakter khas masyarakat Indonesia dalam memperlakukan emas sebagai aset. Banyak rumah tangga masih memilih menyimpan emas secara fisik di rumah, baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan. Kebiasaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, emas fisik memberikan rasa aman karena dapat dilihat dan dipegang secara langsung, sehingga menumbuhkan kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan penyimpanan digital atau institusional. Kedua, terdapat pengalaman historis dan budaya yang membentuk persepsi bahwa emas adalah aset darurat yang harus mudah diakses kapan saja tanpa bergantung pada pihak lain.
Selain itu, tingkat literasi keuangan yang belum merata membuat sebagian masyarakat belum sepenuhnya memahami mekanisme dan manfaat penyimpanan emas melalui lembaga keuangan seperti bullion bank. Kekhawatiran terhadap risiko sistem, seperti potensi kegagalan institusi, kebocoran data, atau ketidakpastian regulasi, juga menjadi alasan mengapa emas fisik masih lebih diminati. Faktor lain yang turut berperan adalah fleksibilitas penggunaan emas fisik, yang dapat langsung dijual, digadaikan, atau diwariskan tanpa prosedur administratif yang rumit.
Menurut Wisnu, kondisi ini sebenarnya menunjukkan adanya potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Emas yang disimpan secara pasif dapat diubah menjadi instrumen keuangan yang lebih produktif apabila dikelola melalui sistem yang terintegrasi. Namun, dominasi kepemilikan fisik dan sektor ritel masih menjadi tantangan dalam pengembangan pasar emas nasional. Berbeda dengan negara yang memiliki pusat perdagangan emas yang matang, pasar emas di Indonesia masih berorientasi pada kepemilikan fisik, sehingga dampaknya lebih terasa pada penguatan pasar keuangan dan belum sepenuhnya mendorong sektor riil.
Ia menegaskan bahwa untuk mendorong peralihan ke bullion bank, diperlukan penguatan regulasi, peningkatan transparansi, serta jaminan perlindungan hukum yang jelas. Pada akhirnya, keputusan masyarakat untuk menyimpan emas di lembaga keuangan tidak hanya ditentukan oleh imbal hasil, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan terhadap sistem. Kepercayaan inilah yang akan memastikan bahwa emas tetap aman, lebih likuid, dan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian.
Artikel Terkait
Jangan Terprovokasi! Ketua Pemuda Adat Saireri: Dukung Polisi Tumpas Kelompok Bersenjata yang Resahkan Nabire
TPA Jatibarang Menerima1.090 Ton Sampah Selama Lebaran, Luar Biasa!
Ketua DPD RI Sultan B Najamudin Dianugerahi Doktor Honoris Causa oleh Korea Maritime & Ocean University
Arus Lebaran 2026 Terkendali, Trafik Penumpang Bandara InJourney Tumbuh Signifikan
Guru Besar FT UGM Soroti Lemahnya Ketahanan Energi Nasional
China Larang Lembaga Pemerintah dan Bank Bank Besar Penggunaan OpenClaw