Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Rangkaian pameran industri makanan dan minuman berkolaborasi dengan Pameran pengemasan, serta printing akan kembali digelar oleh Krista Exhibitions di Kota Yogyakarta. Jogja Food Favorite Expo & Jogja Pack & Print Exhibition 2026 berlangsung pada 8–11 April di Jogja Expo Center (JEC) dan diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi kreatif daerah. Pameran ini menghadirkan lebih dari 110 peserta serta berbagai inovasi terkini dari sektor tersebut.
Acara yang merupakan edisi kedua ini juga menjadi awal dari rangkaian pameran nasional yang akan dilanjutkan ke Surabaya, Bali, dan diakhiri dengan pameran besar di PIK 2, Banten pada November mendatang.
Daud D. Salim, CEO dan Pendiri Krista Exhibitions, menyampaikan bahwa pameran ini dirancang untuk menghubungkan pelaku usaha dengan tren industri terkini dan jaringan bisnis yang lebih luas. “Kami telah mengembangkan jaringan global hingga lebih dari 5.000 perusahaan, dan tahun ini kami fokus pada sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia,” ujarnya dalam pidato pada konferensi Pers.
Tak sekadar ajang transaksi bisnis, pameran ini dirancang sebagai ruang kolaborasi dan edukasi. Beragam kegiatan kreatif turut memeriahkan acara, mulai dari lomba kuliner khas Yogyakarta seperti mie goreng Jawa, jajanan pasar tradisional, hingga nasi tumpeng dan nasi goreng. Kompetisi yang melibatkan chef profesional ini menjadi panggung bagi talenta kuliner lokal untuk menunjukkan kreativitas mereka.
Pengunjung juga dapat mengikuti kelas teh yang digelar bersama Dewan Teh Indonesia serta Asosiasi Teh Specialty Indonesia. Tak kalah menarik, kompetisi kopi turut diselenggarakan bekerja sama dengan asosiasi kopi nasional. Pemenang kompetisi ini akan melaju ke tingkat nasional di Jakarta, bahkan berpeluang tampil di ajang internasional.
Menurut Daud, teknologi cetak grafir dan laser kini tidak hanya diterapkan pada produk dan kemasan, tetapi juga pada dekorasi ruangan dan arsitektur, dengan dukungan API untuk memastikan presisi produksi. “Pada puncak acara di Jakarta nanti, kami akan menyelenggarakan tiga pameran besar: Kristal untuk makanan dan minuman, Power Pack untuk teknologi pengemasan, dan All Print Indonesia untuk teknologi cetak. Semuanya dirancang untuk membawa produk lokal ke tingkat internasional,” tambahnya.
Pengunjung dapat mengikuti acara ini dengan mendaftar melalui tautan resmi yang telah disediakan. Pameran dibuka dari pukul 10.00 WIB hingga 19.00 WIB selama empat hari.
Ellyn Subiyanti, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) DIY, mengungkapkan rasa bangga atas kepercayaan yang diberikan kepada Yogyakarta untuk menyelenggarakan pameran bertajuk industri ini. “Kesuksesan edisi pertama tahun lalu membuktikan bahwa Jogja sebagai kota pariwisata, kuliner, dan multikultur sangat tepat menjadi tempat untuk acara seperti ini,” katanya.
Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pelaku usaha dan industri kreatif menjadi kunci kesuksesan pameran. “Melalui acara ini, UMKM dapat melihat bagaimana produk mereka bisa dikemas lebih menarik, higienis, dan ramah lingkungan. Kami berharap lahir banyak kolaborasi baru yang memperkuat ekosistem bisnis lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.
Acara ini juga menghadirkan berbagai kegiatan menarik, antara lain perlombaan kuliner khas Jogja, kelas edukasi teh bersama Dewan Teh Indonesia, dan kompetisi kopi yang pemenangnya akan melanjutkan ke ajang nasional dan internasional.
Yuna Pancawati, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM DIY, menyoroti pergeseran permintaan konsumen yang kini lebih mengutamakan kemudahan, keamanan, dan nilai tambah pada produk. “Konsumen menginginkan kemasan yang praktis, segel yang jelas, dan informasi yang ringkas namun jelas. Di Jogja sendiri sudah banyak pelaku usaha yang memanfaatkan aksara Jawa dan copywriting yang menyampaikan tanggung jawab perusahaan,” jelasnya.
Data dari dinasnya menunjukkan bahwa hingga tahun 2025, terdapat 98.408 unit Industri Kecil dan Menengah (IKM) di DIY dengan nilai ekspor mencapai 558,72 juta USD atau tumbuh 2,14% dibanding tahun sebelumnya. “Kami terus mendukung pelaku usaha dengan pengawasan kualitas produk dan perlindungan dari persaingan tidak sehat. Pameran ini menjadi kesempatan emas untuk belajar dan mengadopsi inovasi terkini,” ucap Yuna.
Yuna menilai Yogyakarta memiliki ekosistem unik karena didukung kekuatan pendidikan, budaya, dan pariwisata. Kombinasi tersebut menjadikan kota ini ruang subur bagi lahirnya inovasi. "Ide-ide kreatif di Jogja sangat cepat berkembang karena didukung oleh komunitas dan pasar yang terbuka terhadap hal baru," ujarnya.
Ia juga menyoroti potensi pasar dari kalangan generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha yang cenderung menyukai produk inovatif. Tren minuman herbal, kopi rempah, hingga camilan berbasis bahan lokal dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang. Namun, ia mengingatkan pentingnya konsistensi mutu, legalitas produk, sertifikasi halal, serta manajemen usaha yang baik bagi UMKM.
Artikel Terkait
Khofifah : Dari Tangan Kepala Sekolah Lahir Generasi Siap Jemput Indonesia Emas 2045
Stok BBM di Jeneponto, Bulukumba, dan Sinjai Tetap Aman dan Terjaga
OJK dan Bareskrim Bongkar Kasus BPR di Malang, Tersangka Dibekuk di Stasiun Gambir
Efek Lebaran Menggeliat, Ekonom Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,5% di Kuartal I 2026
Jargas Makin Diminati, BPH Migas Sidak Jargas di Bojonegoro-Lamongan, Pastikan Layanan Energi Tetap Optimal
Akhiri Ketergantungan, Jangan sampai digantung BBM: Mengapa Penguatan Angkutan Umum Harus Menjadi Prioritas Utama
Vatican News Tambah Bahasa Indonesia, Pesan Paus Kian Mudah Diakses