Seluruh Koban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulu Saraung Telah Ditemukan 

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Jumat, 23 Januari 2026 | 22:32 WIB
Kepala Badan SAR Nasional , Marsdya Mohammad Syafii, Jumat (23/1/2026) malam menyatakan Operasi Pencarian dan Evakuasi korban pesawat ATR 42-500 dihentikan. (Ist)
Kepala Badan SAR Nasional , Marsdya Mohammad Syafii, Jumat (23/1/2026) malam menyatakan Operasi Pencarian dan Evakuasi korban pesawat ATR 42-500 dihentikan. (Ist)

 

Operasi Tim SAR Gabungan Berakhir

MAKASSAR - SUARA PEMBARUAN - Tim SAR gabungan memastikan seluruh jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulu Saraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, telah berhasil ditemukan. Kepastian tersebut disampaikan pada hari ketujuh operasi pencarian dan evakuasi, Jumat (23/1/2026).

Sesuai manifes penerbangan terdapat 10 orang dalam pesawat ATR 42-500. Tujuh kru pesawat dan tiga penumpang. Total 10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia selama tujuh hari masa pencarian.

"Alhamdulillah hari ketujuh kita bisa temukan seluruhnya," ujar Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi di Posko SAR gabungan, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Jumat (23/1).

Dody menyampaikan bahwa tim SAR gabungan hari ini menemukan dua paket jenazah, yakni penemuan pertama terjadi pukul 08.33 Wita, sementara paket kedua terkonfirmasi pada pukul 09.16 Wita. Dia pun menegaskan seluruh korban telah ditemukan.

"Dengan sandi hari ini kita gunakan 'sapu bersih', Allah meridhai sandi tersebut," tegas Dody.

3 Korban Sudah Teridentifikasi

Tim SAR gabungan awalnya menemukan jenazah berjenis kelamin laki-laki di jurang kedalaman 200 meter pada Minggu (18/1). Jenazah itu teridentifikasi bernama Deden Maulana (43) yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan telah diserahkan ke KKP.

Pada hari kedua pencarian, Senin (19/1), tim SAR gabungan kembali menemukan satu jenazah berjenis kelamin perempuan di jurang kedalaman 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Jenazah itu teridentifikasi sebagai pramugari bernama Florencia Lolita Wibisono (33) diserahkan keluarganya dan diterbangkan ke Jakarta.

Tim SAR lalu menemukan korban ketiga berupa potongan tubuh pada Rabu (21/1) sekitar pukul 12.30 Wita. Potongan tubuh itu masih menjalani pemeriksaan oleh tim DVI Polri.

Selanjutnya, tim SAR gabungan menemukan enam korban yang lokasinya berdekatan di jurang sedalam 250 meter pada Rabu (21/1). Seluruh temuan korban itu telah dievakuasi dengan total tujuh kantong jenazah.

Belakangan, korban ketiga yang berhasil diidentifikasi berjenis kelamin perempuan. Dia adalah pramugari Esther Aprilita S (26).

Ketiga korban yang telah teridentifikasi dilaporkan masih dalam kondisi utuh. Mereka teridentifikasi melalui sidik jari.

Kapolda Soal 11 Kantong Jenazah

Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro menjelaskan total ada 11 kantong jenazah atau body bag yang diterima selama tujuh hari operasi SAR pesawat ATR 42-500. Kantong jenazah tersebut dikirimkan secara bertahap oleh Basarnas ke Posko DVI Biddokkes Polda Sulsel.

"Dari 11 body bag itu pertama diterima hari Selasa, 20 Januari 2026, kemudian 2 body bag kita terima pada 21 Januari 2026, kemudian pada Kamis 22 Januari 2026 1 body bag dan hari ini kami menerima 7 body bag di Biddokkes Polda Sulawesi Selatan," kata Djuhandhani kepada wartawan saat konferensi pers di Posko DVI Polda Sulsel, Jumat (23/1).

Dengan ditemukannya seluruh korban, kotak hitam dan sertipan penting yang dibutuhkan KNKT untuk penyelidikan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Jumat malam resmi menutup operasi SAR gabungan  Penutupan ini dilakukan setelah total 10 korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Operasi Selesai

"Pada malam hari ini saya selaku Kepala Badan SAR Nasional, selaku SAR koordinator men-declare bahwa operasi pencarian dan evakuasi terhadaKp kecelakaan pesawat PK-THT saya nyatakan selesai," kata Kabasarnas Marsdya Mohammad Syafii dalam konferensi pers di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Jumat (23/1/2026).

Syafii menjelaskan bahwa setelah penutupan operasi SAR, Kantor SAR Makassar akan melanjutkan dengan operasi kesiapsiagaan rutin. Operasi ini dilakukan untuk menindaklanjuti jika ada laporan temuan baru di lokasi kecelakaan.

"Dilanjutkan dengan operasi kesiapsiagaan rutin oleh kantor SAR Sulawesi Selatan. Artinya bahwa operasi kesiapsiagaan ini ditujukan andai saja ada laporan dari masyarakat. Misalkan ada body part yang ditemukan, yang tersisa sekecil apapun itu body part, kewajiban bagi Basarnas untuk melaksanakan operasi evakuasi. Artinya pengambilan badan itu dan akan kita serahkan ke DVI Polri," bebernya.

Dia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat dalam operasi SAR ini. Syafii menyebut banyak rintangan yang dihadapi selama proses operasi berlangsung, terutama terkait dengan cuaca ekstrem.
Dan alhamdulillah sebelum malam hari ini, hari terakhir tadi hari ketujuh, kita sama-sama menyaksikan cuaca hari ini cukup baik," ucap Syafii.

Serpihan Pesawat

Terkait sisa serpihan pesawat di lokasi kecelakaan, Syafii menyebut pihak KNKT sudah menyatakan bodypart pesawat yang dibutuhkan sudah cukup untuk melakukan investigasi. Salah satu yang penting ialah black box atau kotak hitam.

"Tadi dari teman-teman KNKT sudah menyampaikan bahwa dengan bukti black box yang sudah ditemukan dan juga beberapa komponen pesawat yang sudah kita serahterimakan sementara masih dalam pernyataan cukup. Jadi sementara sudah disampaikan cukup dari bukti-bukti itu untuk ditindaklanjuti dan dilakukan investigasi," ucap Syafii.

Dia menerangkan, tidak semua serpihan pesawat harus dievakuasi. Serpihan lain akan dievakuasi jika ada permintaan dari KNKT yang berkaitan dengan investigasi.

"Tidak mungkin dengan situasi yang seperti itu body part-body part harus kita evakuasi secara keseluruhan. Kecuali misalkan nanti memang dari KNKT membutuhkan bantuan untuk masuk ke lokasi untuk mengevakuasi body part yang sekiranya masih sangat dibutuhkan. Operasi yang kita lakukan adalah operasi dukungan. Bukan operasi SAR. Karena operasi SAR itu ditujukan untuk menemukan korban dan mengevakuasi korban," terangnya. kepada wartawan.  (SP.news)





Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X