Ade Indriani Zuchri: Merawat Bumi, Menguatkan Perempuan, Menjaga Masa Depan

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Senin, 1 Desember 2025 | 19:55 WIB
Ade Indriani Zuchri [ SUARA PEMBARUAN ]
Ade Indriani Zuchri [ SUARA PEMBARUAN ]

 

Di tengah krisis iklim, kerusakan lingkungan, konflik agraria, dan semakin menyempitnya ruang hidup masyarakat kecil, hadir sosok perempuan yang memilih berdiri di barisan depan perjuangan ekologis Indonesia. Ia adalah Ade Indriani Zuchri, Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia (SHI)—sebuah organisasi yang konsisten memperjuangkan keadilan lingkungan, kedaulatan pangan, dan perlindungan masyarakat adat.

Bagi Ade, perjuangan lingkungan bukan sekadar soal pohon, sungai, dan hutan. Ia adalah perjuangan tentang hidup, tentang keadilan, dan tentang masa depan generasi yang belum lahir.

 

Dari Gerakan Akar Rumput Menuju Panggung Nasional

Perjalanan Ade di Sarekat Hijau Indonesia dimulai dari kerja-kerja organisasi yang sunyi namun berdampak. Sejak awal, ia terlibat aktif dalam pengorganisasian masyarakat, pendampingan warga terdampak konflik sumber daya alam, hingga advokasi kebijakan publik yang berpihak pada lingkungan hidup.

Baca Juga: Cegah Penyalahgunaan, Pertamina Patra Niaga Berkolaborasi dengan Kepolisian dan Dishub Awasi Ketat Solar Subsidi Merauke

Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal SHI,  sebelum kemudian dipercaya sebagai Ketua Umum. Di bawah kepemimpinannya, SHI berkembang dari gerakan di beberapa wilayah menjadi jaringan nasional yang aktif di berbagai provinsi.

“Lingkungan bukan warisan dari orang tua, tapi titipan untuk anak cucu,” adalah prinsip yang sering ia gaungkan dalam berbagai forum.

Politik Hijau dan Kepemimpinan Perempuan

Salah satu ciri kuat kepemimpinan Ade adalah keberpihakannya pada **penguatan peran perempuan dalam politik dan gerakan sosial**. Ia meyakini bahwa kerusakan lingkungan sering kali beriringan dengan ketidakadilan terhadap perempuan. Karena itu, perjuangan ekologis harus berjalan seiring dengan perjuangan kesetaraan.

Di banyak kesempatan, Ade mendorong lahirnya kepemimpinan politik perempuan berbasis nilai-nilai ekologis—perempuan yang tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi sebagai pengambil keputusan yang menentukan arah kebijakan.

Baginya, politik hijau bukan sekadar ideologi, melainkan etika hidup: bagaimana manusia memperlakukan alam dengan adil, sebagaimana manusia ingin diperlakukan dengan adil.

Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Hijau

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X