Pangkep, suarapembaruan.news – PT Semen Tonasa, Pangkep, Sulawesi Selatan, fokus pada penggunaan energi baru terbarukan, konservasi lingkungan, pelestarian keanekaragaman hayati, cagar alam dan budaya.
Salah satu bukti nyatanya adalah Bulu Sipong. Area seluas 31,4 hektar berjarak 10 kilometer dari lokasi operasional Semen Tonasa, yang merupakan bagian dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG).
Lokasi tersebut ditetapkan sebagai area keanekaragaman hayati dan kawasan konservasi.
Badan Usaha milik Negara (BUMN) ini melihat adanya indikasi potensi karst dan arkeologi di dalam area bekas lahan tambang yang sudah puluhan tahun tidak digunakan ini.
Pgs. GM Komunikasi dan Hukum Ardiansyah, dalam keterangan tertulis kepada SP, Selasa (30/5/2023), mengatakan, potensi arkeologi semakin jelas terlihat ketika Tahun 2019, sejumlah arkeolog dari Indonesia Australia, melakukan riset dan penelitian di area Bulu Sipong.
Selanjutnya mempublikasikan temuannya mengenai lukisan bercerita tertua di dunia pada Jurnal Internasional Nature, sebuah jurnal ilmiah mingguan yang berbasis di Inggris.
Dalam jurnal tersebut, para arkeolog menyebutkan, lukisan yang berada di dalam Bulu Sipong tersebut diperkirakan berusia lebih dari 44.000 tahun lalu.
Penetapan area Bulu Sipong sebagai area konservasi, lima tahun lalu, merupakan bentuk kepedulian dan komitmen perusahaan melaksanakan praktik bisnis berkelanjutan.
Menurut Ardiansyah, Semen Tonasa memiliki keinginan menjadi perusahaan persemenan terkemuka yang berwawasan lingkungan.
Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah Taman Keanekaragaman Hayati dan Bulu Sipong.
Dimulai sejak tahun 2015 melalui Kebijakan Perlindungan Keanekaragaman Hayati, yang kemudian pada tahun 2018 kawasan tersebut dijadikan area konservasi khusus perlindungan flora-fauna lokal, endemik dan langka, perlindungan kawasan karst serta situs cagar budaya.
Dalam menjaga dan mengelola secara serius area konservasi Taman Keanekaragaman Hayati dan Bulu Sipong, BUMN ini melakukan penanganan debu jalan tambang melalui pengecoran jalan tambang sejauh 1,5 km, penyiraman jalan tambang minimal sekali per 2 jam, penanaman tanaman endemik, dan pemasangan alat pemantauan debu di area Bulu Sipong.
Untuk penanganan getaran, Semen Tonasa menetapkan zona bebas aktivitas penambangan serta pemasangan alat pemantauan peledakan tambang di area Bulu Sipong.
Terkait kelembaban, perusahaan juga telah melakukan upaya rehabilitasi lahan bekas tambang dengan berbagai tanaman hijau untuk mencegah terjadinya genangan air.
Dalam upaya meningkatkan kompetensi tenaga ahli untuk mengelola kawasan Keanekaragaman Hayati dan Bulu Sipong, perusahaan ini menjalin kerjasama dengan Badan Pengelola Geopark Maros- Pangkep, Fakultas Ilmu Budaya Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional. (SPnews/Teguh LR)