Jakarta, suarapembaruan.news – DKI Jakarta menurunkan lima pegulatnya dalam Pekan Olahraga Nasional PON XX Papua 2021. Dua dari lima pegulat ini sudah bertanding dengan hasil belum meraih medali emas yang diharapkan.
Meskpun demikian DKI masih memilih tiga pegulat yang yang akan turun mulai hari ini hingga tanggal 14 Oktober yang akan datang. Akankah gulat DKI Jakarta bisa mempersembahkan medali emas?
Pelatih Kepala Gulat PON XX Papua DKI Jakarta, Antoni Timbul Romulo, mengatakan DKI masih menyisahkan tiga pegulat lagi. Andalan DKI ada di tangan pegulat terbaiknya, Andika Sulaeman yang akan turun di kelas 77 kg gaya grego.
Selain Andika, masih ada Rusli, peraih medali perunggu PON XIX Bandung 2016, juga pegulat muda berbakat Rudiansyah yang turun di kelas 87 kg gaya grego.
Dari ketiga pegulat ini, kata Romulus, demikian pelatih kepala gulat DKI ini biasa dipanggil, diharapkan bisa meraih satu medali emas. Itulah target yang dicanangkan oleh KONI DKI dari cabor gulat.
Medali emas tentu sangat diharapkan dari tangan Andika Sulaeman. Medali perunggu bisa diharapkan datang dari dua pegulat lainnya. Bisa dari pegulat senior Rusli, bisa pula dari Rudiansyah.
Diharapkan ketiga pegulat ini bisa meraih apa yang ditargetkan oleh KONI DKI pada gulat yakni mempersembahkan minimal satu medali emas. Itulah target dari kelima pegulat yang dikirim DKI pada PON XX Papua 2021.
Bagaimana dengan dua pegulat yang sudah turun masing-masing, Selfi Ajeng, dan Rudi Haryanto. Menurut Romulus, keduanya sudah bertanding maksimal. Hanya saja, mereka kalah dari sisi pengalaman bertanding.
Itu sangat terlihat pada penampilan Ajeng Safitri. Perhatikan pada waktu pertandingan Ajeng melawan pegulat Dewi Sartika Nasution dari Papua. Dewi Sartika adalah pegulat asal Sumatera Utara. Dia peraih medali emas PON XIX Jabar tahun 2016. Pegulat yang cuiup agresif ini berhasil dilawan Ajeng dengan kualitas permainan yang cukup meyakinkan untuk meraih poin demi poin kemenangan dalam pertandingan itu.
Ajeng berhasil mengangkat kaki Dewi Sartika Nasution dengan suatu teknik pengambilan yang mumpuni menghadapi pegulat senior berpengalaman seperti Nasution ini. Ajeng bahkan berkali –kalil nyaris melakukan teknis yang sama pada lawan-lawannya.
Ajeng berlum berhasil meraih poin dari keunggulannya itu karena kalah pengalaman bertanding. Kalau saja selama satu tahun dia diujicoba dengan lawan-lawan yang mumpuni, bisa dipastikan Ajeng, pegulat berusia 20 tahun ini akan menjadi lawan berat bagi mereka yang menang sekarang ini. Hal serupa juga terjadi pada Rudi Hariyanto. (MW)