Lapangan Logandeng Jadi Venue FKY 2025 Bertajuk “Adoh Ratu, Cedhak Watu”

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Sabtu, 4 Oktober 2025 | 21:32 WIB
Keterangan pers Festiva Kebudayaan Yogyakarta. (SPnews-Philip A)
Keterangan pers Festiva Kebudayaan Yogyakarta. (SPnews-Philip A)

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu” secara harfiah berarti “jauh dari raja, dekat dengan batu”, namun maknanya jauh lebih dalam. Ia merepresentasikan etos kebudayaan masyarakat Gunungkidul yang mandiri, berakar kuat pada tanah dan tradisi, serta mampu merespons dinamika zaman tanpa kehilangan jati diri. Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) kembali hadir pada 11–18 Oktober 2025 dengan mengusung tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu”. Bertempat di Playen Kabupaten Gunungkidul, FKY tahun ini memasuki tahun ketiga dari peta jalan lima tahunan yang menjelajahi kekayaan budaya di lima wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi dalam jumpa pers, Sabtu (04/10/2025),  menyampaikan bahwa FKY 2025 akan menjadi ruang pertemuan dan pertukaran nilai, bukan hanya merayakan adat istiadat, tetapi juga memfasilitasi keberagaman subjek dan konteks kebudayaan. “Gunungkidul bukan sekadar tuan rumah, tetapi ekosistem yang hidup, yang mampu menyaring dan mengolah perjumpaan budaya,” ujarnya.

Sejak pertama kali digelar pada 1989, FKY bukan sekadar pesta seni. Ia adalah ruang eksperimentasi budaya, tempat seniman, sastrawan, dan pemikir bertemu untuk mencipta, berdialog, dan melahirkan gagasan. FKY menjadi wahana pemersatu, penguat identitas, dan akselerator ekosistem budaya DIY.

Sedang Direktur FKY 2025, BM Anggana, menjelaskan bahwa adat istiadat Gunungkidul tumbuh secara organik, diwariskan dari generasi ke generasi, dan melekat dalam kehidupan sehari-hari. Praktik seperti sambatan dan rasulan menjadi simbol solidaritas komunitas dan pengelolaan sumber daya kolektif yang masih lestari hingga kini.

“Adoh Ratu” bukan sekadar jarak geografis dari pusat kekuasaan, tetapi juga simbol kesadaran akan kemandirian komunitas. Sementara “Cedhak Watu” menegaskan kedekatan masyarakat dengan tanah, sejarah karst, dan kosmologi lokal yang menjadi sumber daya hidup dan spiritualitas.

FKY 2025 akan menghadirkan berbagai pertunjukan seni, pameran budaya, diskusi publik, dan interaksi kreatif yang menjembatani desa dan kota, tradisional dan modern. Festival ini menjadi jendela DIY ke dunia, sekaligus ruang refleksi dan regenerasi nilai-nilai kebudayaan.

Dengan semangat “Adoh Ratu, Cedhak Watu”, FKY 2025 mengajak publik untuk melihat adat istiadat bukan sebagai warisan statis, melainkan sebagai daya hidup yang terus bergerak, menyesuaikan diri, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Festival akan berlangsung selama sepekan di Lapangan Desa, Kabupaten Gunungkidul, dan terbuka untuk semua kalangan. FKY 2025 bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga undangan untuk kembali ke akar, menyimak suara tanah, dan merayakan keberagaman dalam kebersamaan.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X