Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Ironi tentang Indonesia, negara agraris yang pengimpor pangan hingga saat ini tampaknya masih akan berlanjut untuk kedepannya. Keberadaan pabrik pupuk kimia ternyata tidak memiliki relevansi dengan peningkatan produksi pangan dalam negeri, meski pupuk sudah diberi subsidi namun di lapangan masih banyak petani yang tidak menerima haknya, kalau pun menerima ternyata ketersediaan pupuk tidak sesuai dengan kebutuhan petani, hal ini diungkapkan oleh Yudi seorang petani di daerah Tirtomartani, Kalasan, Sleman DIY. Langkanya campur tangan pemerintah dalam permasalahan kelangkaan pupuk bersubsidi, distribusi yang tidak tepat, ketersediaan pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan kiranya sudah menjadi hal yang kelaziman bagi petani untuk lebih mengencangkan ikat pinggang.
Menyadari realita pilu petani di negara agraris ini menggerakkan hati orang orang muda pengelola PT. Senopati Agung Semesta (SAS) untuk meneliti dan berinovasi mengembangkan berbagai macam pupuk hayati untuk membantu petani menutrisi produk-produk pangan yang mereka tanam di lahan sawah dan perkebunan yang mereka miliki, dan menekan beban produksi mereka agar para petani dapat menikmati hasil panen mereka secara lebih layak.
Memperkenalkan produk produk hayati berupa pupuk untuk menutrisi tanaman dan probiotik untuk peternakan dan perikanan, produk dengan merek Puca Madu, Guru Tani, Bio Ratu dan Pro Bio-XL diyakini mampu menekan biaya produksi secara langsung pada pemakaian pertama produk ini. Dalam paparannya Tobias Santosa menyatakan “Produk pupuk hayati Bio Ratu majemuk Granule mampu mengurangi kebutuhan pemakaian produk kimia sebesar 50%, di beberapa lahan yang mengaplikasikan pupuk Bio Ratu Majemuk Granule 100%, produksi padi yang biasanya 6-7 ton per hektar meningkat hingga 9-11 ton per hektar, tentunya hal ini sangat menguntungkan bagi para petani.” “Untuk produk pupuk hayati cair Puca Madu dan Guru Tani kami 1 liter produk bisa diaplikasikan untuk 20 kali penyemprotan tanaman semusim atau diaplikasikan pada 25-40 tanaman keras” imbuhnya. Selain produk pupuk hayati perusahaan ini juga memperkenalkan produk insektisida dan pestisida hayati yang ramah lingkungan. Di lahan demplot PT. SAS di wilayah desa Madurejo kecamatan Prambanan, aplikasi dari produk produk ini bisa disaksikan secara langsung.
“Produk PT. SAS baik Puca Madu, Guru Tani, Bio Ratu dan Bio-XL sudah bisa didapatkan secara daring di marketplace yang ada” unglkap Alvin Wicaksono manager pemasaran PT. SAS, dia juga menambahkan “Kami membuka peluang kemitraan bagi siapa saja yang tertarik untuk menjadidistributor produk kami secara offline.” “PT. SAS telah berpengalaman 5 tahun di bidang pupuk organic dan hayati, “ pungkas Alvin.
Artikel Terkait
Tahun 2025, Bengkulu Dapat Alokasi Bantuan Pupuk Subsidi 82.071 Ton
Pj Gubernur Sulsel: Distribusi Pupuk 2.9 T Kewenangan Tugas BUMN Pupuk Indonesia
Pertamina Dukung Inisiatif, Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik