kesehatan

JKN Jadi Penopang Harapan Prayitno Hadapi Gagal Ginjal dengan Cuci Darah

Kamis, 21 Agustus 2025 | 11:45 WIB
Prayitno, warga Kelurahan Mlatibaru, Kota Semarang, pasien cucu darah yang terbantu berkat program JKN.

Semarang, SUARA PEMBARUAN – Lebih dari sepuluh tahun Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hadir sebagai penopang masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan yang mudah, setara, dan terjangkau.

Program ini terasa begitu penting, terutama bagi pasien dengan kebutuhan pengobatan jangka panjang, seperti yang dialami Prayitno, warga Kelurahan Mlatibaru, Kota Semarang.

Prayitno mengisahkan, pada tahun 2019, saat pandemi Covid-19 melanda, ia mulai sering merasakan nyeri hebat di dada. Rasa sakit itu sempat mereda dengan obat-obatan, namun tak lama kemudian ia didiagnosis batu ginjal.

Lewat metode ESWL (gelombang kejut), setelah lima kali tindakan, batu ginjalnya dinyatakan bersih.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya 2023, nyeri dada kembali menghampiri. Obat jantung sempat meredakan gejala, namun hanya bertahan sekitar tiga minggu. Setelah itu tubuhnya melemah, disertai mual dan muntah hingga ia hanya bisa berbaring di rumah.

Sang istri akhirnya membawanya ke IGD. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kreatinin mendekati angka 20, kondisi kritis yang mengharuskannya segera menjalani cuci darah.

“Waktu itu langsung ditangani di ICU, tiga kali cuci darah dalam beberapa hari. Setelah lima hari perawatan, kondisi saya membaik dan diperbolehkan pulang,” ungkap Prayitno saat ditemui di RS dr. Kariadi, Semarang.

Kebiasaan merokok sejak muda, terutama untuk menemani pekerjaannya sebagai sopir, diyakini menjadi salah satu pemicu kondisi ginjalnya.

“Awalnya kaki bengkak, saya kira masalah jantung. Ternyata dokter bilang itu akibat ginjal yang sudah tidak kuat menopang,” katanya.

Sejak Juli 2023, ia resmi menjalani cuci darah secara rutin. Sudah dua tahun ini, ia menjadi peserta JKN melalui skema PBPU (Pekerja Bukan Penerima Upah) Pemerintah Kota Semarang dengan cakupan UHC (Universal Health Coverage). Baginya, program ini adalah penyelamat.

“Alhamdulillah, semua tindakan dan obat gratis, tidak keluar biaya sepeserpun. Awal-awal memang lemas, tapi sekarang sudah lebih terbiasa,” ucapnya lega.

Prayitno juga mengapresiasi pelayanan di puskesmas hingga rumah sakit yang menurutnya ramah dan tidak membeda-bedakan pasien.

“Kalau tanpa BPJS Kesehatan atau UHC, mungkin saya sudah pasrah saja. Soalnya biaya cuci darah itu bisa jutaan sekali jalan,” katanya sambil tersenyum kecil.

Ia pun tak lupa menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan yang telah menjamin pengobatannya.

Halaman:

Tags

Terkini

GMTD Perkuat Peran Kader Posyandu di Makassar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 22:47 WIB